Bandar Lampung, A1BOS.COM - Perjalanan PT Slash Teknologi Indonesia atau yang dikenal dengan brand Slash CCTV menjadi gambaran bagaimana sebuah usaha yang dirintis dari bawah dapat berkembang menjadi perusahaan penyedia sistem keamanan dengan jaringan distribusi di sejumlah wilayah Lampung.
Berawal dari tekad untuk berwirausaha, Direktur PT Slash Teknologi Indonesia, Leo Perdana, mengaku memulai bisnis tersebut dengan modal yang sangat terbatas. Sisa gaji dari tempat kerja sebelumnya digunakan untuk mencoba peruntungan sebagai teknisi CCTV secara freelance.
Dari pekerjaan tersebut, Leo kemudian bertemu dengan komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA). Pertemuan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya karena ia mendapat dorongan untuk mengembangkan pekerjaan freelance menjadi sebuah usaha yang lebih serius.
"Awalnya bermula dari tekad berwirausaha. Bermodalkan sisa gaji dari tempat kerja, saya mencoba freelance menjadi teknisi CCTV di Lampung. Kemudian bertemu dengan komunitas pengusaha TDA dan diarahkan agar menjadi bisnis yang awalnya hanya freelance," kata Leo.
Slash CCTV mulai beroperasi pada 2017. Kala itu, aktivitas bisnis masih dijalankan dari sebuah kos-kosan. Setahun kemudian, pada 2018, usaha tersebut berkembang dengan berdirinya CV Slash Indo Perdana.
Perkembangan bisnis terus berlanjut hingga pada 2021 perusahaan bertransformasi menjadi PT Slash Teknologi Indonesia.

Menurut Leo, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah perkembangan teknologi sistem keamanan yang sangat cepat.
Kondisi tersebut membuat Slash CCTV harus terus beradaptasi agar dapat mengikuti kebutuhan pasar sekaligus menyediakan teknologi terbaru bagi pelanggan.
"Teknologi berkembang sangat cepat. Itu menjadi tantangan terbesar karena kami harus terus beradaptasi dengan teknologi terbaru," ujarnya.
Bagi Leo, keberadaan Slash CCTV tidak semata-mata berorientasi pada bisnis dan keuntungan. Ada nilai kebermanfaatan yang ingin dibangun melalui perusahaan, baik bagi internal perusahaan maupun pelanggan.
"Tujuan bisnis ini tentunya kebermanfaatan, baik untuk internal perusahaan maupun pelanggan yang terbantu dengan adanya perangkat sistem keamanan yang modern," katanya.
Kini Miliki Tiga Cabang
Setelah melalui proses pengembangan selama beberapa tahun, Slash CCTV kini telah memiliki tiga cabang yang berada di Bandar Lampung, Kota Metro, dan Bandarjaya.
Pembukaan cabang tersebut tidak terlepas dari strategi perusahaan dalam menjangkau dua segmen pasar utama, yakni retail dan grosir.
Menurut Leo, keberadaan cabang di sejumlah wilayah juga membuat proses distribusi barang menjadi lebih mudah, terutama untuk memenuhi kebutuhan para installer di masing-masing area.
"Target market kami ada dua, yaitu retail dan grosir. Tentunya dengan adanya cabang, ini mempermudah distribusi barang ke installer di area tersebut," jelasnya.

Ekspansi bisnis pun dipastikan belum berhenti. Slash CCTV memiliki target untuk terus mengembangkan potensi bisnis hingga dapat menjangkau pasar di luar Lampung.
"Target selalu ada. Insyaallah kami akan terus mengembangkan potensi ini hingga ke luar Lampung," tutur Leo.
Dipercaya Berbagai Brand CCTV
Dalam menjalankan bisnisnya, Slash CCTV juga dipercaya sebagai master dealer sejumlah brand perangkat keamanan dan jaringan.
Beberapa brand yang menjadi bagian dari jaringan distribusi Slash CCTV di antaranya Dahua, Imou, HiView, TP-Link VIGI, dan Biota. Selain itu, Slash CCTV juga merupakan dealer resmi Hikvision, HiLook, dan EZVIZ.
Leo menyebut kepercayaan dari supplier dan pemilik brand menjadi bagian penting dalam membangun kerja sama bisnis yang berkelanjutan.
"Slash CCTV menjadi master dealer Dahua, Imou, HiView, TP-Link VIGI, Biota, dan dealer resmi Hikvision, HiLook, serta EZVIZ. Tentunya bukan hal yang mudah karena kepercayaan supplier dan brand adalah kunci kerja sama berkelanjutan," katanya.
Di tengah persaingan bisnis CCTV yang semakin ketat, Slash CCTV tidak hanya mengandalkan harga sebagai strategi memenangkan pasar.
Leo mengatakan perusahaan berupaya memberikan dukungan layanan, menyediakan banyak pilihan produk, serta memberikan jaminan garansi tukar baru kepada pelanggan.
"Secara garis besar mungkin terasa sama dengan toko lain. Yang membedakan adalah support layanan, produk banyak pilihan, dan garansi tukar baru yang selalu kami berikan jaminan," ujarnya.
Tak Hanya CCTV
Seiring berkembangnya kebutuhan pelanggan terhadap sistem keamanan dan teknologi pintar, produk yang ditawarkan Slash CCTV kini tidak lagi terbatas pada kamera pengawas.
Perusahaan juga menyediakan berbagai perangkat dan solusi seperti fingerprint, alarm, smart door, Internet of Things (IoT), grounding, barrier gate, sound room, hingga perangkat jaringan.
Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), face recognition, smart detection, serta integrasi perangkat keamanan dengan smartphone juga menjadi perhatian perusahaan.

Slash CCTV mengikuti perkembangan tersebut dengan melakukan peningkatan kemampuan tim teknis sekaligus memastikan ketersediaan produk dengan model dan teknologi terbaru.
"Kami mengikuti semua perkembangan tersebut, mulai dari upgrade tim technical sampai ketersediaan produk model terbaru," kata Leo.
Untuk segmen pasar, Slash CCTV saat ini menyasar berbagai kebutuhan, mulai dari distribusi, perusahaan, rumah, hingga proyek-proyek berskala besar.
Status sebagai master dealer resmi juga menjadi salah satu modal perusahaan dalam menghadapi persaingan harga.
Namun, bagi Leo, harga bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberlangsungan bisnis. Kepercayaan pelanggan, mulai dari proses penjualan hingga layanan purna jual, menjadi hal yang terus dijaga.
"Karena Slash CCTV merupakan master dealer resmi, tentunya harga sangat bersaing. Namun poinnya adalah kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan kami, mulai dari penjualan hingga after sales," tegasnya.
Ingin Jadi Local Hero Sistem Keamanan Lampung
Ke depan, PT Slash Teknologi Indonesia tidak hanya ingin tumbuh sebagai perusahaan penyedia perangkat CCTV. Leo berharap Slash CCTV dapat menjadi perusahaan lokal yang memiliki peran lebih besar dalam membangun sistem keamanan di Lampung.
Ia menyebut visi tersebut sebagai upaya menjadikan Slash CCTV sebagai local hero di bidang penyedia layanan sistem keamanan sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menciptakan sistem keamanan yang lebih baik di Provinsi Lampung.
"Harapan kami tentunya bisa menjadi local hero sebagai perusahaan penyedia layanan sistem keamanan, menjadi partner pemerintah menciptakan sistem keamanan di Provinsi Lampung. Hingga manfaatnya akan terbawa ke nasional," pungkas Leo.
Perjalanan Slash CCTV dari sebuah usaha freelance yang dimulai dari kos-kosan pada 2017 hingga memiliki tiga cabang di Lampung menjadi bukti bahwa pertumbuhan bisnis dibangun melalui proses panjang.
Dengan mengandalkan jaringan distribusi, perkembangan teknologi, dukungan layanan, serta kepercayaan pelanggan dan principal, Slash CCTV kini menatap ekspansi yang lebih luas, tidak hanya di Lampung tetapi juga ke tingkat nasional. (Red)
Tulis Komentar