08117992581

Tidur Kurang atau Terlalu Lama Bisa Berkaitan dengan Penuaan Tubuh yang Lebih Cepat

$rows[judul] Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash

Kota Metro, A1BOS.COM - Tidur bukan hanya soal berapa lama tubuh beristirahat pada malam hari. Pola tidur juga tampaknya berkaitan dengan proses penuaan biologis yang terjadi di berbagai bagian tubuh.

Sebuah analisis terhadap data ratusan ribu orang menemukan pola berbentuk U. Tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama berkaitan dengan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih cepat pada otak, jantung, paru-paru, sistem kekebalan tubuh, dan organ lainnya.

Dikutip dan diadaptasi dari hasil penelitian Junhao Wen dan koleganya yang menggunakan data UK Biobank, penelitian tersebut juga melihat hubungan antara durasi tidur dan berbagai penyakit. Namun, temuan ini tidak membuktikan bahwa lama tidur secara langsung menyebabkan organ menua lebih cepat.

Jam biologis membantu melihat proses penuaan

Para ilmuwan kini menggunakan aging clock atau jam penuaan untuk memperkirakan apakah seseorang mengalami penuaan biologis lebih cepat atau lebih lambat dibandingkan usia sebenarnya.

Teknologi tersebut memanfaatkan machine learning dan berbagai informasi biologis. Data yang digunakan bisa berupa protein dari pemeriksaan darah dengan prosedur minimal invasif maupun informasi lain yang berkaitan dengan kondisi tubuh.

Selama ini, banyak jam penuaan memberikan satu gambaran mengenai kondisi seluruh tubuh. Padahal, setiap organ bisa mengalami proses penuaan dengan kecepatan berbeda.

Contohnya dapat terlihat pada penurunan fungsi ovarium yang berkaitan dengan perubahan biologis pada kesuburan perempuan.

Junhao Wen, asisten profesor radiologi di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, bersama timnya mengembangkan jam penuaan yang dapat melihat organ secara lebih spesifik.

Menurut Wen, perkembangan jam penuaan tidak hanya menarik karena bisa membantu memperkirakan risiko penyakit dan kematian. Ia juga ingin mengetahui apakah alat tersebut dapat dikaitkan dengan faktor gaya hidup yang masih bisa diubah untuk memperlambat proses penuaan.

Peneliti mencari pola tidur yang berkaitan dengan penuaan

Tidur menjadi salah satu faktor yang menarik untuk diteliti karena semakin banyak bukti menunjukkan kaitannya dengan kesehatan.

Wen juga memiliki alasan pribadi untuk tertarik pada masalah tersebut. Ia mengaku termasuk orang yang mudah terbangun atau tidurnya ringan dan mulai khawatir terhadap dampaknya.

Untuk membuat jam penuaan, Wen dan tim menggunakan data sekitar setengah juta peserta UK Biobank. Mereka kemudian menggunakan machine learning untuk menemukan pola biologis yang berkaitan dengan penuaan pada berbagai organ.

Tim peneliti menggabungkan beberapa jenis informasi. Di antaranya adalah ukuran struktur tubuh dari pencitraan medis, protein yang berkaitan dengan organ tertentu, serta molekul yang ditemukan dalam darah.

Pada hati, misalnya, peneliti dapat membuat jam penuaan berdasarkan data protein, data metabolisme, maupun data pencitraan. Dengan cara tersebut, mereka dapat melihat apakah durasi tidur memiliki hubungan yang konsisten dengan berbagai lapisan informasi biologis.

Selanjutnya, durasi tidur yang dilaporkan peserta dibandingkan dengan perkiraan usia biologis dari 23 jam penuaan yang mencakup 17 sistem organ.

Tidur terlalu sedikit dan terlalu lama sama-sama berkaitan

Hasil analisis menunjukkan pola berbentuk U.

Orang yang melaporkan tidur kurang dari enam jam dan mereka yang tidur lebih dari delapan jam cenderung menunjukkan tanda penuaan biologis yang lebih cepat.

Sementara itu, tingkat penuaan paling rendah terlihat pada kelompok yang melaporkan tidur sekitar 6,4 hingga 7,8 jam per hari.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa durasi tidur secara langsung membuat organ menua lebih cepat atau lebih lambat.

Temuannya lebih tepat dibaca sebagai hubungan: tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat menjadi tanda adanya kondisi kesehatan yang kurang baik di dalam tubuh.

Durasi tidur berkaitan dengan berbagai penyakit

Hubungan antara tidur dan kesehatan juga terlihat pada sejumlah kondisi penyakit.

Tidur pendek secara signifikan berkaitan dengan episode depresi dan gangguan kecemasan. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menghubungkan kurang tidur dengan masalah kesehatan mental.

Tidur pendek juga berkaitan dengan obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung iskemik, dan gangguan irama jantung.

Sementara itu, tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama sama-sama berkaitan dengan penyakit paru obstruktif kronis dan asma.

Hubungan serupa juga ditemukan pada beberapa gangguan pencernaan, termasuk gastritis dan penyakit refluks gastroesofagus.

Menurut Wen, pola yang melibatkan otak dan berbagai bagian tubuh tersebut menunjukkan bahwa durasi tidur berkaitan erat dengan keseluruhan proses fisiologis tubuh.

Hubungan tidur dengan depresi pada usia lanjut

Jam penuaan khusus organ juga dapat membantu peneliti memahami hubungan antara tidur dan penyakit tertentu.

Dalam penelitian ini, Wen dan tim secara khusus melihat kaitannya dengan depresi pada usia lanjut.

Peneliti belum dapat menentukan apakah perubahan durasi tidur menyebabkan depresi pada usia lanjut atau justru depresi memengaruhi pola tidur seseorang.

Karena itu, mereka menggunakan analisis mediasi untuk melihat apakah proses penuaan biologis mungkin ikut menjelaskan hubungan antara tidur yang terlalu singkat atau terlalu lama dengan depresi pada usia lanjut.

Hasilnya menunjukkan bahwa tidur pendek mungkin memiliki hubungan yang lebih langsung dengan beban depresi pada usia lanjut.

Sebaliknya, tidur panjang kemungkinan berkaitan dengan depresi melalui jalur biologis yang tercermin pada jam penuaan otak dan jaringan lemak.

Wen menilai temuan tersebut penting untuk penelitian mengenai pengelolaan tidur dan terapi pada masa mendatang. Menurutnya, tidur terlalu singkat dan terlalu lama mungkin melibatkan jalur biologis yang berbeda meskipun keduanya berkaitan dengan hasil yang sama, yakni depresi pada usia lanjut.

Jadi, berapa lama sebaiknya tidur?

Penelitian ini menemukan bahwa kelompok dengan durasi tidur sekitar 6,4–7,8 jam per hari menunjukkan tingkat penuaan biologis paling rendah dalam analisis tersebut.

Namun, angka itu tidak berarti penelitian telah membuktikan bahwa setiap orang harus tidur dalam durasi yang sama. Yang ditemukan adalah hubungan antara durasi tidur dan tanda-tanda penuaan biologis, bukan hubungan sebab-akibat.

Karena itu, tidur terlalu sedikit maupun terlalu lama dapat dilihat sebagai salah satu pola yang berkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh secara lebih luas. Temuan ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara tidur, otak, dan organ-organ tubuh jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung jumlah jam tidur.(*/sci.d)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)