Keterangan Gambar : Jan Kaum. foto/pinterest
Kota Metro, A1BOS.COM - Jan Koum pernah mengantre untuk mendapatkan kupon pangan setelah pindah dari Ukraina ke Amerika Serikat. Lebih dari dua dekade kemudian, ia menandatangani kesepakatan penjualan WhatsApp kepada Facebook dengan nilai awal sekitar 19,3 miliar dolar AS.
Penandatanganan itu berlangsung di gedung yang pernah menjadi tempatnya mengantre mendapatkan bantuan sosial.
Koum merupakan salah satu pendiri WhatsApp, aplikasi pesan instan yang digunakan jutaan orang di berbagai negara. Bersama Brian Acton, ia mengembangkan layanan komunikasi sederhana yang kemudian menarik perhatian salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.
Perjalanan tersebut tidak berlangsung dalam semalam. Koum melewati masa sulit sebagai imigran, belajar teknologi secara mandiri, bekerja di perusahaan teknologi, dan menemukan peluang bisnis dari perkembangan ponsel pintar.
Jan Koum lahir di kawasan pedesaan di luar Kyiv, Ukraina. Pada awal 1990-an, ketika berusia 16 tahun, ia pindah ke Mountain View, California, bersama ibunya.
Kehidupan keluarga mereka di Amerika Serikat tidak mudah. Koum dan ibunya sempat bergantung pada bantuan pemerintah serta kupon pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keterbatasan ekonomi menjadi bagian dari kehidupan mereka pada masa awal menetap di negara baru. Di sisi lain, Koum harus beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan yang berbeda dari tempat kelahirannya.
Pengalaman sebagai imigran juga memberinya gambaran tentang sulitnya berkomunikasi dengan keluarga yang tinggal jauh. Pada masa itu, biaya telepon internasional relatif mahal.
Persoalan komunikasi lintas negara tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam perjalanan hidupnya. Namun, gagasan WhatsApp tidak lahir hanya dari pengalaman tersebut. Perkembangan teknologi ponsel pintar kemudian membuka peluang yang lebih konkret untuk membangun layanan komunikasi baru.
Ketertarikan Koum pada komputer berkembang melalui proses belajar mandiri. Ia mempelajari jaringan komputer dengan membaca buku panduan, termasuk buku bekas yang dibelinya karena keterbatasan biaya.
Ia kemudian kuliah di San Jose State University, California. Sambil menempuh pendidikan, Koum bekerja di Ernst & Young sebagai penguji keamanan sistem.
Di perusahaan tersebut, ia memperoleh pengalaman profesional yang berkaitan dengan keamanan dan teknologi informasi. Pengalaman itu menjadi bekal sebelum memasuki industri teknologi yang lebih besar.
Koum akhirnya meninggalkan kuliah untuk berkarier di Yahoo. Di perusahaan internet tersebut, ia bekerja sebagai insinyur infrastruktur dan mendalami sistem yang menopang layanan digital.
Di Yahoo pula ia bertemu Brian Acton. Keduanya bekerja bersama selama bertahun-tahun sebelum memutuskan meninggalkan perusahaan pada 2007.
Setelah keluar dari Yahoo, mereka sempat beristirahat dan mempertimbangkan langkah berikutnya. Keduanya bahkan pernah melamar pekerjaan di Facebook, tetapi tidak diterima.
Penolakan itu bukan akhir perjalanan profesional mereka. Beberapa waktu kemudian, perkembangan industri aplikasi ponsel membuka peluang bisnis baru.
Pada Januari 2009, setelah membeli iPhone, Koum mulai melihat peluang dari perkembangan industri aplikasi. Saat itu, App Store milik Apple baru berusia sekitar tujuh bulan.
Ia membayangkan aplikasi yang memungkinkan pengguna terhubung melalui nomor telepon. Gagasan tersebut menjadi dasar pengembangan WhatsApp.
Koum mendirikan WhatsApp Inc. pada 24 Februari 2009, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-33.
Pada tahap awal, WhatsApp belum dirancang sebagai aplikasi pesan instan seperti yang dikenal sekarang. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna menampilkan status di samping nama mereka dalam daftar kontak.
Perkembangan penting terjadi ketika Apple memperkenalkan fitur push notification pada 2009. Fitur ini memungkinkan perubahan status diketahui pengguna lain melalui notifikasi.
Pengguna kemudian mulai memanfaatkan WhatsApp untuk saling berkomunikasi. Koum melihat bahwa aplikasi tersebut memiliki potensi lebih besar daripada sekadar layanan berbagi status.
WhatsApp pun berkembang menjadi aplikasi pesan instan. Setelah fitur pesan diperkenalkan, jumlah penggunanya meningkat hingga sekitar 250.000 orang pada tahap awal pertumbuhannya.
Perubahan fungsi ini menjadi titik penting dalam perjalanan WhatsApp. Aplikasi yang awalnya sederhana mulai menjawab kebutuhan komunikasi yang lebih luas.
Mengembangkan aplikasi hingga mampu melayani banyak pengguna membutuhkan lebih dari sekadar gagasan. Koum membutuhkan mitra yang memahami visi bisnis sekaligus dapat membantu perusahaan bertumbuh.
Brian Acton menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Setelah meninggalkan Yahoo, Acton bergabung dengan Koum untuk mengembangkan WhatsApp.
Acton juga membantu menyediakan pendanaan awal sebesar sekitar 250.000 dolar AS dari sejumlah mantan rekan kerja mereka di Yahoo. Dana tersebut membantu WhatsApp melewati tahap awal pengembangan.
Keduanya mengutamakan kesederhanaan, keandalan, dan kemudahan penggunaan. WhatsApp dirancang agar pengguna dapat berkomunikasi tanpa harus menghadapi banyak fitur yang rumit.
Aplikasi ini juga tersedia di berbagai platform ponsel. Pengguna dapat bertukar pesan dengan orang lain tanpa harus menggunakan perangkat dari merek yang sama.
Pendekatan tersebut membantu WhatsApp menjangkau lebih banyak pengguna, termasuk mereka yang ingin berkomunikasi dengan keluarga dan teman di negara lain.
Pada 2011, Sequoia Capital menanamkan investasi sekitar 8 juta dolar AS ke WhatsApp. Pendanaan ini mendukung pengembangan layanan dan pertumbuhan perusahaan.
Pada 2013, Sequoia kembali memberikan investasi sebesar 50 juta dolar AS. Saat itu, valuasi WhatsApp mencapai sekitar 1,5 miliar dolar AS.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa layanan komunikasi yang sederhana dapat berkembang menjadi bisnis bernilai tinggi ketika mampu menjangkau pasar yang luas.
Pertumbuhan WhatsApp menarik perhatian Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Pada Februari 2014, Facebook mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi WhatsApp.
Nilai awal transaksi tersebut sekitar 19,3 miliar dolar AS dalam bentuk kombinasi uang tunai dan saham. Setelah harga saham Facebook meningkat, nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar 22 miliar dolar AS.
Akuisisi itu menjadi salah satu transaksi terbesar dalam industri teknologi pada masanya.
Namun, ada satu detail yang membuat kisah Koum terasa lebih personal.
Dokumen akuisisi tersebut ditandatangani di bekas kantor North County Social Services di Mountain View, California. Gedung itu pernah menjadi tempat Koum mengantre untuk mendapatkan kupon pangan ketika hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Tempat yang dahulu mengingatkannya pada masa sulit kini menjadi saksi kesepakatan bisnis bernilai miliaran dolar AS.
Kisah tersebut memperlihatkan kontras perjalanan hidup Koum. Dari seorang remaja imigran yang harus beradaptasi dengan kehidupan baru, ia tumbuh menjadi pengusaha teknologi yang membangun layanan komunikasi global bersama mitranya.
Koum tetap terlibat dalam WhatsApp setelah akuisisi. Namun, pada 2018, ia mengundurkan diri sebagai CEO WhatsApp dan keluar dari dewan direksi Facebook.
Perjalanan Jan Koum dan Brian Acton memberikan sejumlah pelajaran bagi calon pengusaha.
Pertama, masalah sehari-hari dapat menjadi titik awal sebuah peluang bisnis. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan mudah dan murah merupakan persoalan yang dirasakan banyak orang. WhatsApp berkembang dengan menawarkan solusi yang praktis.
Kedua, kemampuan perlu dibangun melalui proses belajar. Koum mempelajari teknologi secara mandiri, memperoleh pengalaman profesional, dan memahami sistem yang menopang layanan digital sebelum mendirikan perusahaan sendiri.
Ketiga, membangun usaha tidak harus dilakukan sendirian. Kemitraan dengan Brian Acton membantu WhatsApp memperoleh pendanaan awal dan mengembangkan bisnisnya.
Keempat, produk sederhana tetap membutuhkan pelaksanaan yang baik. Gagasan saja tidak cukup. Perusahaan harus memastikan produknya mudah digunakan, dapat diandalkan, dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna.
Kisah Koum juga menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak otomatis menentukan masa depan seseorang. Namun, keberhasilan bukan hasil dari perjuangan saja. Kemampuan, kesempatan, kerja sama, pendanaan, dan keputusan bisnis turut berperan dalam perjalanan sebuah perusahaan.
Bagi calon pengusaha, pelajaran terpenting dari WhatsApp bukan sekadar bagaimana sebuah aplikasi akhirnya dibeli dengan harga miliaran dolar AS. Lebih dari itu, kisah ini memperlihatkan pentingnya mengenali masalah, menawarkan solusi yang bermanfaat, dan membangun usaha bersama orang-orang yang memiliki visi sejalan.
Tulis Komentar