08117992581

Abdul Sattar Edhi: Lelaki Sederhana di Balik Jaringan Kemanusiaan Terbesar Pakistan

$rows[judul] Keterangan Gambar : Abdul Sattar Edhi dan yayasannya identik dengan kerja kemanusiaan di Pakistan. foto/pinterest

Kota Metro, A1BOS.COM - Abdul Sattar Edhi tidak dikenal karena kekayaan pribadi, jabatan, atau kemewahan. Namun, melalui kehidupan sederhana dan pengabdian selama lebih dari enam dekade, ia membangun salah satu jaringan kesejahteraan sosial terbesar di Pakistan.

Namanya mungkin tidak setenar tokoh politik atau pengusaha dunia. Namun, bagi masyarakat Pakistan, Edhi merupakan simbol kemanusiaan. Ia mengabdikan hidupnya untuk membantu orang-orang miskin, anak telantar, tunawisma, orang sakit, hingga jenazah yang tidak diketahui identitas maupun keluarganya.

Dari sebuah dispensary kecil di Karachi, Pakistan, Edhi membangun organisasi sosial yang berkembang menjadi jaringan pelayanan kemanusiaan berskala nasional.

Organisasi tersebut dikenal dengan nama Edhi Foundation. Layanannya mencakup ambulans gratis, panti asuhan, klinik kesehatan, rumah perlindungan perempuan, tempat penampungan tunawisma, hingga pelayanan pemakaman bagi jenazah tanpa keluarga.

Menariknya, di tengah besarnya organisasi yang dibangun, Edhi tetap mempertahankan gaya hidup sederhana. Ia tidak menjadikan kerja kemanusiaan sebagai jalan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Masa Kecil yang Membentuk Jiwa Kemanusiaan

Abdul Sattar Edhi dan ambulance nya. foto/pinterest


Abdul Sattar Edhi lahir pada 28 Februari 1928 di Bantva, Gujarat, India Britania. Ia berasal dari keluarga Muslim komunitas Memon.

Sejak kecil, Edhi sudah diperkenalkan pada kebiasaan berbagi oleh ibunya. Perempuan itu membiasakan Edhi menyisihkan sebagian uang untuk diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Namun, pengalaman yang paling membekas dalam hidupnya datang ketika ibunya jatuh sakit.

Saat Edhi berusia sekitar 11 tahun, sang ibu mengalami kelumpuhan dan kemudian juga menghadapi gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut membuatnya membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Edhi mengambil tanggung jawab merawat ibunya. Ia membantu membersihkan tubuh, mengganti pakaian, memberi makan, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Ia menyaksikan langsung bagaimana seseorang yang sakit dan tidak berdaya membutuhkan perhatian serta pertolongan orang lain.

Dari pengalaman itu, tumbuh kesadaran bahwa penderitaan manusia tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Ibunya meninggal ketika Edhi berusia sekitar 19 tahun. Pengalaman merawat sang ibu kemudian menjadi salah satu fondasi pengabdiannya kepada masyarakat miskin dan kelompok rentan.

Memulai dari Dispensary Gratis di Karachi

Pada 1947, setelah pemisahan India dan Pakistan, keluarga Edhi pindah ke Karachi, Pakistan.

Kehidupan di kota baru tidak mudah. Edhi harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia pernah menjadi pedagang kaki lima dan bekerja menjual pakaian di pasar.

Namun, keinginannya membantu masyarakat miskin tidak pernah hilang.

Pada 1951, Edhi menggunakan tabungannya untuk membeli sebuah toko kecil di kawasan Mithadar, Karachi. Tempat itu kemudian dijadikan dispensary atau pusat pelayanan kesehatan gratis.

Pelayanan tersebut terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun agama.

Edhi berusaha menyediakan obat-obatan dengan harga lebih murah. Ia juga mempekerjakan seorang dokter untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Untuk menambah pengetahuannya, Edhi bekerja di klinik dokter sekaligus mempelajari bidang farmasi dan administrasi.

Saat itu, akses masyarakat miskin terhadap fasilitas kesehatan masih sangat terbatas. Banyak orang tidak memiliki cukup uang untuk mendapatkan pengobatan.

Edhi melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang harus diatasi.

Ia tidak menunggu menjadi kaya atau mendapatkan dukungan pemerintah. Ia memulai dari kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.

Seiring perkembangan pelayanan, dispensary tersebut juga dilengkapi fasilitas persalinan dan pelatihan perawat.

Pandemi Flu Asia 1957 dan Ambulans Pertama

Deretan Ambulance yayasan milik Edhi. foto/pinterest

Perjalanan Edhi semakin berkembang ketika pandemi flu Asia atau Asian Flu melanda pada 1957.

Wabah tersebut meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Edhi ikut memberikan bantuan dengan menyediakan fasilitas pertolongan bagi warga yang terdampak.

Responsnya terhadap wabah itu menarik perhatian masyarakat.

Seorang pengusaha kemudian memberikan sumbangan sebesar 20.000 rupee kepada lembaga yang dikelolanya. Sebagian dana tersebut digunakan Edhi untuk membeli sebuah van bekas yang kemudian diubah menjadi ambulans.

Kendaraan sederhana itulah yang menjadi awal perkembangan layanan ambulans Edhi Foundation.

Edhi tidak sekadar menyediakan kendaraan. Ia juga terlibat langsung dalam pelayanan darurat dan mengembangkan sistem bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis.

Prinsipnya sederhana: siapa pun yang membutuhkan bantuan harus mendapatkan pertolongan.

Ambulans tidak boleh membedakan pasien berdasarkan agama, suku, status sosial, maupun kemampuan ekonomi.

Dari satu kendaraan, layanan tersebut berkembang menjadi jaringan ambulans yang menjangkau berbagai wilayah Pakistan.

Menurut laporan London School of Economics (LSE), pada 1997 Edhi Foundation tercatat memiliki sekitar 1.500 ambulans dan disebut sebagai organisasi dengan jumlah ambulans swasta terbanyak di dunia saat itu.

LSE juga mencatat bahwa jaringan tersebut kemudian berkembang menjadi lebih dari 1.800 ambulans dan 335 pusat pelayanan di Pakistan.

Angka tersebut menunjukkan besarnya perkembangan organisasi yang awalnya dirintis dari sebuah dispensary kecil.

Mendirikan Edhi Foundation

Pada 1974, Edhi secara resmi mendirikan Edhi Foundation untuk mengorganisasi dan memperluas pelayanan sosial yang telah dirintisnya.

Organisasi tersebut berkembang menjadi salah satu sistem kesejahteraan sosial terbesar di Pakistan.

Layanannya tidak hanya berfokus pada ambulans dan kesehatan.

Edhi Foundation juga mengelola panti asuhan, tempat penampungan tunawisma, rumah perlindungan perempuan, pusat rehabilitasi, klinik kesehatan, serta pelayanan bagi orang-orang dengan disabilitas.

Salah satu pekerjaan yang membuat Edhi dikenal adalah pelayanan pemakaman bagi jenazah tanpa identitas atau keluarga.

Bagi Edhi, seseorang tetap memiliki martabat meskipun telah meninggal dunia.

Ia tidak ingin orang-orang yang terlupakan semasa hidupnya juga kehilangan penghormatan setelah meninggal.

Menurut informasi yang dipublikasikan Edhi Foundation, organisasi tersebut telah memakamkan lebih dari 200.000 jenazah tanpa keluarga atau pihak yang mengklaim.

Organisasi ini juga menyediakan tempat aman bagi bayi yang ditelantarkan. Melalui program tersebut, bayi-bayi yang tidak mendapatkan pengasuhan dari keluarga biologis dapat dirawat dan memperoleh kesempatan untuk diadopsi.

Bersama istrinya, Bilquis Edhi, ia mengembangkan berbagai pelayanan bagi perempuan dan anak-anak yang membutuhkan perlindungan.

Mengisi Kekosongan Pelayanan Sosial di Pakistan

Besarnya perkembangan Edhi Foundation tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial Pakistan.

Di sejumlah wilayah, masyarakat menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, transportasi darurat, tempat penampungan, dan perlindungan sosial.

Kondisi tersebut membuat banyak kelompok rentan kesulitan mendapatkan pertolongan.

Dalam kajian yang dipublikasikan London School of Economics, Edhi digambarkan sebagai sosok yang mengisi kekosongan pelayanan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Organisasinya berkembang melalui sumbangan masyarakat dan kerja para relawan.

Model pelayanan tersebut memungkinkan Edhi Foundation menjangkau kelompok masyarakat yang tidak selalu tersentuh oleh fasilitas publik.

Namun, keberadaan organisasi sosial seperti Edhi Foundation juga memperlihatkan persoalan mendasar: kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kemanusiaan masih sangat besar.

Edhi tidak membangun organisasi itu hanya untuk memberikan bantuan sesaat. Ia berusaha menciptakan sistem pelayanan yang bisa berjalan secara berkelanjutan.

Hidup Sederhana di Tengah Organisasi Besar

Ada satu hal menarik dari kehidupan Abdul Sattar Edhi.

Ketika organisasi yang dibangunnya semakin besar, ia justru tetap menjalani kehidupan sederhana.

Ia dikenal mengenakan pakaian sederhana dan tidak menampilkan kemewahan dalam kehidupan sehari-hari.

Edhi juga tidak mengambil gaji dari organisasi yang dipimpinnya. Berdasarkan dokumentasi Ramon Magsaysay Award Foundation, ia bersama keluarganya menjalani kehidupan sederhana dengan mengandalkan pendapatan dari investasi bisnis yang dimiliki sebelumnya.

Ia tidak hanya mengelola organisasi dari balik meja. Edhi dikenal terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pelayanan masyarakat.

Bersama istrinya, Bilquis Edhi, ia membangun sistem pelayanan yang menjangkau masyarakat paling rentan.

Bilquis memiliki peran penting dalam pengembangan layanan kesehatan perempuan, persalinan, dan perlindungan anak telantar.

Keduanya menerima pengakuan internasional bukan hanya karena membangun organisasi besar, tetapi juga karena menunjukkan bahwa pelayanan kemanusiaan dapat dilakukan tanpa membedakan latar belakang penerimanya.

Penghargaan Internasional untuk Pengabdian Kemanusiaan

Pengabdian Abdul Sattar Edhi mendapat pengakuan dari berbagai negara dan lembaga internasional.

Pada 1986, Edhi bersama istrinya, Bilquis Edhi, menerima Ramon Magsaysay Award untuk kategori Public Service dari Filipina.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi keduanya dalam membangun jaringan pelayanan sosial dan kesehatan, termasuk penanganan anak telantar serta pelayanan bagi masyarakat miskin.

Pada 1988, Edhi juga menerima Lenin Peace Prize sebagai pengakuan atas kerja kemanusiaannya.

Pemerintah Pakistan kemudian menganugerahinya Nishan-e-Imtiaz, salah satu penghargaan sipil tertinggi di negara tersebut.

Pengakuan internasional lainnya datang pada 2000 ketika Edhi menerima International Balzan Prize untuk kategori Humanity, Peace and Fraternity among Peoples.

Balzan Foundation memberikan penghargaan tersebut atas pengabdian panjang Edhi kepada masyarakat miskin dan upayanya membantu orang-orang yang tidak memiliki siapa pun untuk merawat mereka.

Meski memperoleh berbagai penghargaan, Edhi tidak mengubah prinsip hidupnya.

Ia tetap menjalani kehidupan sederhana dan mempertahankan keterlibatan langsung dalam pelayanan masyarakat.

Baginya, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Pekerjaan kemanusiaan tetap harus berjalan.

Meninggal Dunia, Warisan Kemanusiaannya Terus Hidup

Abdul Sattar Edhi meninggal dunia pada 8 Juli 2016 di Karachi, Pakistan, dalam usia 88 tahun setelah mengalami gagal ginjal.

Kepergiannya mendapat perhatian luas dari masyarakat Pakistan dan dunia internasional.

Pemerintah Pakistan menggelar pemakaman kenegaraan atau state funeral sebagai penghormatan atas pengabdian panjangnya.

Edhi meninggalkan organisasi kemanusiaan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun.

Keluarga dan jajaran Edhi Foundation kemudian melanjutkan berbagai pelayanan sosial yang telah dirintisnya. Putranya, Faisal Edhi, juga terlibat dalam keberlanjutan organisasi tersebut.

Namun, warisan terbesar Edhi bukanlah penghargaan atau pengakuan internasional.

Warisan terbesarnya adalah sistem pelayanan kemanusiaan yang membantu masyarakat tanpa mempersoalkan agama, kekayaan, maupun status sosial.

Ia pernah memulai semuanya dari sebuah dispensary kecil di Karachi. Kemudian, satu ambulans bekas menjadi awal dari jaringan pelayanan darurat yang berkembang ke seluruh Pakistan.

Kisah hidup Abdul Sattar Edhi memperlihatkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari kekuasaan, kekayaan, atau jabatan.

Terkadang, perubahan justru bermula dari kesediaan seseorang memperhatikan penderitaan orang lain.

Edhi telah meninggal dunia. Namun, organisasi yang dibangunnya terus menjalankan pekerjaan yang menjadi prinsip hidupnya: menolong manusia tanpa membedakan siapa mereka.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)