08117992581

Studi Ungkap Hubungan Scrolling Smartphone dengan Perhatian dan Kualitas Tidur

$rows[judul] Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash

Kota Metro, A1BOS.COM - Berapa jam sehari Anda menghabiskan waktu dengan smartphone? Dua jam, empat jam, atau bahkan lebih? Durasi memang penting. Namun, ada hal lain yang tak kalah menarik untuk diperhatikan: apa yang dilakukan selama menatap layar ponsel.

Sebuah penelitian pada orang dewasa muda menemukan bahwa kebiasaan menggunakan smartphone secara intensif berkaitan dengan sejumlah hal, mulai dari kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, dan kualitas tidur hingga pengendalian diri. Penggunaan ponsel dengan cara terus-menerus menggulir konten juga menjadi salah satu pola yang diperhatikan peneliti.

Temuan ini bukan berarti scrolling pasti merusak otak atau menyebabkan gangguan kesehatan. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan antara pola penggunaan smartphone dan sejumlah kondisi psikologis, kognitif, serta fisik. Hubungan itu tidak serta-merta membuktikan sebab-akibat.

Penelitian yang dilakukan tim dari Semmelweis University, Hungaria, tersebut diterbitkan dalam jurnal Acta Psychologica pada 2025 dengan judul Parallel mediation of FoMO and self-control on the relationship between problematic smartphone use and neuroticism.

Bukan Hanya Soal Berapa Lama Main HP

Peneliti melibatkan mahasiswa atau dewasa muda berusia 18–35 tahun. Mereka diminta mengisi kuesioner tentang kebiasaan menggunakan smartphone, termasuk durasi pemakaian, jenis aktivitas yang dilakukan, dan seberapa sulit mereka melepaskan diri dari ponsel.

Ada pertanyaan yang cukup menarik. Apakah penggunaan smartphone pernah membuat mereka melewatkan kegiatan yang sudah direncanakan? Apakah mereka masih terus memikirkan ponsel ketika sedang tidak menggunakannya?

Peneliti juga melihat sejumlah faktor psikologis, seperti kemampuan mengendalikan diri, rasa takut tertinggal dari aktivitas orang lain atau fear of missing out (FOMO), serta neurotisisme.

Neurotisisme merupakan ciri kepribadian yang berkaitan dengan kecenderungan mengalami emosi negatif, seperti kecemasan, kesedihan, ketakutan, dan kemarahan.

Dari penelitian itu, para peserta dikelompokkan berdasarkan pola penggunaan smartphone mereka.

Kelompok pertama menggunakan ponsel terutama untuk berkomunikasi, menjaga hubungan pertemanan, dan berinteraksi dengan orang lain.

Kelompok kedua menghabiskan waktu kurang dari sekitar empat hingga lima jam sehari untuk berbagai aktivitas, seperti membaca berita, berkomunikasi, menikmati hiburan, dan melihat konten di media sosial.

Sementara itu, kelompok ketiga, yang disebut heavy process users, menggunakan smartphone sekitar empat hingga lima jam atau lebih setiap hari. Mereka lebih banyak mengonsumsi konten daring daripada berkomunikasi dengan orang lain.

Jumlah kelompok terakhir ini mencapai sekitar sepertiga dari peserta penelitian.

FOMO dan Pengendalian Diri Ikut Berperan

Mengapa sebagian orang sulit melepaskan diri dari smartphone, sedangkan yang lain tidak?

Dr. Johanna Takács, peneliti senior di Fakultas Ilmu Kesehatan Semmelweis University sekaligus pemimpin penelitian, menjelaskan bahwa kepribadian bukan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya masalah penggunaan smartphone.

Orang yang mudah cemas, mengalami stres, atau memiliki kecenderungan emosi negatif tidak otomatis mengalami penggunaan smartphone bermasalah.

Menurut Takács, kemampuan mengendalikan perilaku, emosi, dan dorongan diri perlu mendapat perhatian. Begitu pula FOMO, yakni perasaan khawatir tertinggal informasi atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.

Kebiasaan memeriksa ponsel berulang kali, misalnya, bisa berkaitan dengan dorongan untuk selalu mengetahui apa yang sedang terjadi di media sosial.

Meski demikian, penelitian ini tidak berarti setiap orang yang sering membuka media sosial mengalami masalah penggunaan smartphone. Yang menjadi perhatian adalah pola penggunaan yang sulit dikendalikan dan kaitannya dengan faktor psikologis lainnya.

Apa Hubungannya dengan Konsentrasi dan Daya Ingat?

Coba perhatikan kebiasaan saat membuka media sosial. Satu video selesai, muncul video berikutnya. Belum sempat berhenti, ada unggahan baru yang menarik perhatian.

Scrolling pasif seperti ini membuat pengguna terus berhadapan dengan rangsangan yang berubah dengan cepat. Peneliti menilai pola tersebut dapat berkaitan dengan beban perhatian dan kelelahan mental.

Dalam hasil pengujian yang dilaporkan peneliti, kelompok pengguna dengan aktivitas intensif menunjukkan kinerja yang lebih buruk pada tugas memori dan perhatian dibandingkan dengan yang diperkirakan untuk kelompok usia mereka.

Mereka juga melaporkan kualitas tidur yang lebih rendah, kebutuhan stimulasi yang lebih tinggi, dan kesulitan menahan dorongan untuk segera memeriksa ponsel.

Namun, temuan tersebut perlu dibaca secara proporsional. Penelitian ini tidak membuktikan bahwa scrolling secara langsung menyebabkan penurunan daya ingat atau konsentrasi.

Kualitas tidur, stres, kondisi kesehatan mental, dan kebiasaan sehari-hari juga dapat berkaitan dengan kemampuan seseorang memusatkan perhatian dan mengingat informasi.

Jadi, tidak tepat jika hasil penelitian ini langsung diartikan bahwa terlalu lama melihat layar pasti membuat kecerdasan menurun atau otak mengalami kerusakan.

Kebiasaan Menunduk Saat Main HP Juga Perlu Diperhatikan

Selain pola penggunaan, posisi tubuh ketika melihat layar menjadi perhatian dalam penelitian tersebut.

Saat ponsel dipegang terlalu rendah, orang cenderung menundukkan kepala untuk melihat layar. Posisi ini membuat otot dan struktur di sekitar leher menanggung beban tambahan.

Jika dilakukan terus-menerus dalam waktu lama, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan keluhan yang dikenal sebagai text neck.

Beáta Seregély, dosen asisten yang bertanggung jawab atas pengukuran fisik dalam penelitian itu, menjelaskan bahwa posisi kepala yang terus condong ke depan berpotensi menimbulkan rasa nyeri atau ketidaknyamanan pada leher.

Namun, keluhan setiap orang bisa berbeda. Durasi penggunaan, posisi tubuh, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan turut memengaruhi risiko yang dihadapi.

Seregély juga menjelaskan bahwa leher memiliki reseptor sensorik yang membantu otak mengenali posisi kepala. Menurut penjelasan peneliti, perubahan posisi kepala yang dipertahankan dalam waktu lama berpotensi memengaruhi informasi sensorik tersebut.

Secara teori, kondisi itu dapat berkaitan dengan keseimbangan dan koordinasi gerakan. Peneliti juga menyoroti kemungkinan kaitannya dengan waktu reaksi.

Meski begitu, bukan berarti semua orang yang sering menggunakan smartphone akan mengalami gangguan keseimbangan atau koordinasi. Temuan ini perlu dipahami sebagai kemungkinan hubungan, bukan kepastian medis.

Lalu, Bagaimana Cara Mengurangi Risikonya?

Meninggalkan smartphone sepenuhnya tentu bukan solusi yang disarankan peneliti. Ponsel sudah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari, mulai dari berkomunikasi hingga mencari informasi.

Yang lebih penting adalah memperbaiki kebiasaan penggunaannya.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba.

Pertama, kurangi notifikasi yang tidak perlu. Notifikasi media sosial dan aplikasi pesan bisa membuat seseorang berulang kali memeriksa ponsel. Matikan pemberitahuan yang tidak penting agar perhatian tidak terus teralihkan.

Kedua, batasi waktu scrolling. Tentukan berapa lama waktu yang ingin digunakan untuk membuka media sosial. Dengan begitu, kegiatan yang awalnya hanya sebentar tidak terus berlanjut tanpa disadari.

Ketiga, hindari bermain ponsel menjelang tidur. Peneliti menyarankan kebiasaan ini sebagai salah satu cara untuk membantu menjaga kualitas tidur.

Keempat, perhatikan posisi tubuh. Usahakan tidak terus-menerus menundukkan kepala saat melihat layar. Selingi penggunaan smartphone dengan istirahat dan aktivitas fisik.

Kelima, belajar mengendalikan dorongan untuk terus terhubung. Tidak semua informasi harus segera diketahui. Memberi jeda sebelum membuka notifikasi atau media sosial dapat menjadi langkah untuk mengelola kebiasaan memeriksa ponsel.

Peneliti juga menilai latihan perilaku dan dukungan psikologis dapat membantu memperkuat pengendalian diri, terutama bagi anak muda yang kesulitan mengelola kebiasaan menggunakan smartphone.

Perhatikan Kebiasaannya, Bukan Hanya Angkanya

Penelitian ini memberi gambaran bahwa penggunaan smartphone tidak cukup dinilai dari jumlah jam di depan layar. Jenis aktivitas yang dilakukan dan kemampuan mengendalikan kebiasaan juga perlu diperhatikan.

Menggunakan ponsel untuk berkomunikasi tentu berbeda dengan menghabiskan waktu berjam-jam menggulir konten tanpa tujuan yang jelas. Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa salah satu pola tersebut secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan tertentu.

Mengurangi notifikasi, membatasi waktu media sosial, menjaga posisi tubuh, dan menghindari smartphone menjelang tidur bisa menjadi awal untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

Jika gangguan tidur, nyeri leher yang menetap, atau masalah keseimbangan terus dirasakan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)