Keterangan Gambar : Ilustrasi/pexels
Metro, A1BOS.COM - Kucing peliharaan yang berkeliaran di luar rumah memiliki kemungkinan tiga hingga lima kali lebih besar membawa patogen zoonosis dibandingkan kucing yang hanya berada di dalam ruangan. Temuan ini berasal dari kompilasi lebih dari 400 penelitian.
Dari laman theconversation, Hewan peliharaan merupakan bagian penting dalam kehidupan banyak orang dan memberikan persahabatan yang bermakna. Namun, hewan peliharaan juga dapat menjadi sumber patogen dan penyakit yang tidak diinginkan, terutama jika sering berkeliaran di luar rumah.
Penelitian ini dilakukan oleh ahli ekologi dan dokter hewan yang mempelajari kesehatan satwa liar serta pergerakan patogen di antara satwa liar, hewan peliharaan, dan manusia.
Patogen zoonosis adalah organisme yang dapat menginfeksi hewan dan manusia. Dari perspektif patogen, manusia merupakan salah satu inang hewan. Satwa liar sering dianggap sebagai sumber penyakit baru bagi manusia karena jumlah spesies hewan liar jauh lebih banyak dibandingkan spesies hewan domestik.
Namun, kemampuan patogen menginfeksi manusia tidak dengan sendirinya membuat patogen tersebut dapat mencapai manusia. Manusia lebih banyak berbagi patogen zoonosis dengan hewan peliharaan dibandingkan satwa liar karena hewan peliharaan hidup dekat dengan manusia. Patogen juga semakin diuntungkan jika mampu menginfeksi hewan peliharaan.
Dalam penelitian yang baru diterbitkan, para peneliti mengumpulkan data dari lebih dari 400 studi. Mereka menyelidiki bagaimana gaya hidup kucing, baik yang sebagian besar berada di dalam ruangan, berkeliaran di luar ruangan, maupun hidup liar, memengaruhi kemungkinan kucing membawa patogen yang dapat menginfeksi manusia.
Dari kompilasi tersebut, terdapat hampir 100 patogen yang terdeteksi pada kucing dan dianggap zoonosis serta mampu menginfeksi manusia. Contoh yang umum adalah rabies, Toxoplasma gondii, cacing gelang, dan Salmonella.
Penelitian menemukan kucing peliharaan yang berkeliaran di luar ruangan memiliki kemungkinan tiga hingga lima kali lebih besar membawa patogen zoonosis dibandingkan kucing yang hanya berada di dalam ruangan.
Yang lebih mengejutkan, kucing yang diizinkan berkeliaran di luar ruangan memiliki kemungkinan yang sama untuk membawa setidaknya satu patogen zoonosis seperti kucing liar.
Kucing peliharaan yang berada di luar ruangan membawa lebih sedikit jenis patogen dibandingkan kucing liar. Namun, patogen yang sama yang menginfeksi kucing liar juga dapat menginfeksi kucing peliharaan.
Risiko ini menjadi penting karena kucing peliharaan yang berkeliaran bebas berinteraksi erat dengan manusia, satwa liar, dan hewan domestik lainnya.
Dari berbagai penelitian yang ditinjau, sekitar 60 persen kucing peliharaan memiliki akses ke luar ruangan tanpa pengawasan. Di beberapa wilayah, angka tersebut bahkan melebihi 90 persen.
Kucing yang berkeliaran dapat berburu, berinteraksi dengan satwa liar atau hewan peliharaan lainnya, serta bergerak melalui lingkungan yang terkontaminasi patogen dan racun.
Penelitian menunjukkan pemilik kucing mungkin meremehkan aktivitas berburu hingga sekitar 80 persen. Artinya, banyak penangkapan mangsa dan kontak dengan hewan lain tidak disadari pemilik.
Interaksi tersebut bukan hal yang jarang terjadi dan tidak terbatas pada spesies yang disebut hama. Perkiraan jumlah satwa liar yang dibunuh oleh kucing di satu negara mencapai miliaran. Lebih dari 2.000 spesies satwa liar telah didokumentasikan sebagai mangsa kucing domestik.
Kucing berburu hewan yang dapat membawa patogen zoonosis, termasuk hewan pengerat, burung, dan kelelawar. Sebagian besar hewan tersebut biasanya jarang berinteraksi langsung dengan manusia.
Kucing peliharaan mungkin membawa pulang hewan pengerat yang membawa virus. Ada pula kasus yang terdokumentasi tentang kucing yang membawa kelelawar positif rabies ke dalam rumah.
Karena itu, kucing yang pulang dengan membawa mangsa dapat menciptakan jalur yang memungkinkan patogen yang beredar di populasi satwa liar mencapai manusia.
Risiko tidak hanya berasal dari pemilik kucing. Kucing yang berkeliaran di luar rumah juga buang air besar di kebun, taman bermain, dan ruang publik lainnya, yang berpotensi menyebabkan tingkat kontaminasi tinggi.
Sebuah studi memperkirakan kucing yang berkeliaran di luar rumah membuang lebih dari 60 ton kotoran per 10.000 rumah tangga setiap tahunnya.
Tergantung pada jenis parasitnya, feses dapat mengandung ratusan hingga ratusan ribu telur parasit. Telur tersebut dapat bertahan di tanah atau air selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Telur parasit itu kemudian dapat menginfeksi manusia atau hewan lain yang bersentuhan dengannya.
Intervensi yang paling mudah dilakukan, ekonomis, dan manusiawi adalah mencegah kucing berkeliaran tanpa pengawasan.
Hal itu bukan berarti kucing harus dilarang mengakses area luar ruangan. Pemilik dapat membangun “catios” atau kandang, mengajak kucing berjalan-jalan dengan tali, mengawasi waktu di luar ruangan, atau menggunakan bentuk akses luar ruangan terkendali lainnya.
Perawatan hewan tetap penting. Mengobati infeksi parasit yang sudah ada dan memberikan vaksinasi terhadap penyakit seperti rabies merupakan tindakan pencegahan penting, bahkan untuk kucing rumahan.
Namun, vaksin dan pengobatan antiparasit tidak mencakup seluruh spektrum patogen yang terkait dengan satwa liar. Karena itu, mengelola paparan tetap menjadi pendekatan perlindungan yang lebih komprehensif.
Perdebatan mengenai kebebasan berkeliaran sering digambarkan sebagai pilihan yang keliru: kucing dibiarkan berkeliaran bebas atau mereka akan kehilangan kehidupan alami. Gambaran tersebut dinilai menyesatkan dan tidak konsisten dengan cara manusia mengelola hewan peliharaan lainnya.
Manusia tidak berasumsi bahwa anjing membutuhkan akses tanpa batas ke jalan raya, halaman tetangga, atau kesempatan berburu satwa liar agar memiliki kesejahteraan yang baik.
Kucing dalam ruangan dan kucing dengan akses luar ruangan yang diawasi dapat hidup sehat, memiliki kualitas hidup lebih baik, dan hidup lebih lama.
Kebijakan dan strategi yang mengatur bagaimana dan di mana kucing peliharaan berkeliaran di luar ruangan dapat membantu melindungi keanekaragaman hayati, kesejahteraan kucing dan satwa liar, serta kesehatan masyarakat.
Itulah inti pendekatan One Health, bahwa pilihan yang sama yang melindungi ekosistem juga dapat melindungi hewan dan manusia yang berbagi ekosistem tersebut.(bs)
Tulis Komentar