08117992581

Sehari Keliling Metro Lampung: Kota Kecil yang Enak Dijelajahi Pelan-Pelan

$rows[judul] Keterangan Gambar : Ilustrasi: Taman Merdeka. ilustrasi dibantu AI

Kota Metro, A1BOS.COM - Kalau punya waktu sehari di Kota Metro, Lampung, tidak perlu membuat rencana perjalanan yang terlalu rumit. Kota ini cukup bersahabat untuk dijelajahi dengan sepeda motor, terutama karena sejumlah ruang publik, tempat kuliner, dan destinasi wisatanya masih berada dalam jangkauan perjalanan dari pusat kota.

Pagi bisa dimulai dari Taman Merdeka dan Samber Park, kemudian mampir ke Payungi jika kebetulan datang pada Minggu, sebelum siangnya mencari makan dan sore hari meluncur ke Dam Raman.

Rutenya juga tidak perlu dibuat seperti perjalanan ekspedisi. Justru enaknya Metro ada di situ: dalam satu hari, suasana pusat kota, pasar rakyat, kuliner, dan kawasan wisata alam masih bisa dirangkai menjadi satu perjalanan.

Pagi di Taman Merdeka

Mulailah sekitar pukul 06.30 dari Taman Merdeka Metro di kawasan Imopuro, Metro Pusat. Taman ini berada di jantung kota dan bisa dikunjungi tanpa tiket masuk. Ada ruang terbuka hijau, Tugu Meterm, tulisan “I Love Metro”, serta beberapa bagian taman yang cukup nyaman untuk berjalan santai atau sekadar mencari latar foto.

Pagi hari menjadi waktu yang cukup enak untuk memulai perjalanan karena suasana kota belum terlalu sibuk. Setelah berkeliling taman, sarapan bisa dicari di kawasan sekitarnya. Pilihannya tidak perlu muluk-muluk: nasi uduk, bubur, lontong, kopi, atau jajanan kaki lima sudah cukup untuk mengisi tenaga sebelum perjalanan dilanjutkan.

Samber Park, Tidak Perlu Naik Kendaraan

Dari Taman Merdeka, perjalanan bisa dilanjutkan ke Samber Park. Jaraknya hanya sekitar 200 meter sehingga sebenarnya tidak ada alasan untuk buru-buru menghidupkan mesin kendaraan. Kalau cuaca sedang bersahabat, berjalan kaki justru lebih masuk akal. Bila jalan kaki Sekitar 10 menitan. 

Samber Park bisa menjadi tempat berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama; cukup menikmati suasana pusat kota, berjalan-jalan, atau mengambil beberapa foto. Karena lokasinya sangat dekat dengan Taman Merdeka, dua tempat ini bisa dianggap satu paket untuk agenda pagi.

Kalau Hari Minggu, Belok ke Payungi

Ada satu tambahan rute yang menarik jika perjalanan dilakukan pada Minggu pagi, yakni Pasar Yosomulyo Pelangi atau Payungi di Jalan Kedondong, Yosomulyo. Pasar ini biasanya berlangsung sekitar pukul 06.00–10.00 WIB dan tidak mengenakan tiket masuk.

Payungi cocok untuk berburu jajanan tradisional sekaligus menikmati suasana pasar yang berbeda dari pusat kota. Datang lebih pagi menjadi pilihan yang masuk akal karena pasar hanya berlangsung dalam waktu terbatas dan pilihan makanan biasanya lebih banyak ketika aktivitas baru dimulai.

Kalau perjalanan dilakukan bukan pada Minggu, bagian ini tentu saja bisa dilewati. Waktu tersebut dapat digunakan untuk memperpanjang jalan-jalan di pusat kota atau langsung menuju agenda makan siang.

Siang, Saatnya Mencari Warung

Menjelang siang, tidak perlu memaksakan diri makan di tempat yang sedang viral hanya demi memenuhi agenda wisata kuliner. Untuk perjalanan hemat, warung makan dan rumah makan di sekitar Metro Pusat maupun Metro Timur justru lebih masuk akal.

Pilihan bisa diarahkan ke masakan rumahan, makanan khas Lampung, atau warung di kawasan Jalan AH Nasution. Di sekitar Taman Merdeka juga terdapat pedagang yang menjual makanan dan jajanan dengan pilihan harga yang lebih beragam.

Untuk urusan harga dan jam buka, tetap ada baiknya mengecek informasi terbaru melalui peta digital atau akun resmi tempat makan. Dunia kuliner lokal punya satu aturan tidak tertulis: tempat yang kemarin buka belum tentu hari ini masih buka, dan harga yang kemarin cocok di kantong belum tentu hari ini masih sama.

Sore Menuju Dam Raman

Setelah makan siang, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Taman Wisata Dam Raman di Purwoasri, Metro Utara. Jaraknya sekitar 8 kilometer ke arah utara dari Kota Metro, cukup untuk membuat perjalanan mulai terasa seperti meninggalkan pusat kota dan masuk ke suasana yang lebih terbuka.

Dam Raman menawarkan pemandangan bendungan dan kawasan alam terbuka yang bisa digunakan untuk bersantai, menikmati udara luar, maupun mencari foto. Pemerintah Kota Metro juga mencatat kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata alam yang terus dikembangkan.

Waktu yang ideal bisa dimulai sekitar pukul 13.00 dan digunakan sampai menjelang sore. Tidak perlu mengejar banyak tempat sekaligus karena tujuan utama perjalanan sehari justru menikmati kota dengan santai. Siapkan uang tunai untuk parkir, makanan ringan, atau kebutuhan kecil lainnya, terutama jika datang menggunakan sepeda motor.

Tidak Harus Dam Raman

Kalau Dam Raman bukan pilihan, masih ada beberapa alternatif untuk mengisi waktu sore. Taman Metro Indonesia Indah di Metro Utara, misalnya, memiliki fasilitas rekreasi keluarga seperti waterpark dan wahana permainan. Ada pula Goa Warak yang berada tidak jauh dari kawasan Stadion Tejosari, Taman Palem Indah, maupun kawasan Stadion Tejosari yang bisa menjadi pilihan bagi yang hanya ingin mencari ruang terbuka dengan suasana lebih santai.

Namun, semuanya tidak perlu dimasukkan ke dalam satu itinerary. Pilih satu destinasi saja untuk sore hari agar perjalanan tidak berubah menjadi lomba mengejar lokasi. Lagi pula, tujuan jalan-jalan adalah menikmati tempat yang didatangi, bukan membuktikan bahwa dalam sehari seseorang sanggup mengumpulkan check-in sebanyak mungkin.

Malam Kembali ke Pusat Kota

Menjelang pukul 18.00, perjalanan bisa ditutup dengan kembali ke pusat Kota Metro. Taman Merdeka dan kawasan di sekitarnya dapat menjadi pilihan untuk mencari makanan malam, menikmati minuman hangat, atau sekadar melihat suasana kota setelah aktivitas siang mulai mereda.

Taman tersebut dikenal sebagai salah satu titik berkumpul warga dan di sekitarnya terdapat pedagang makanan. Setelah seharian berpindah tempat, agenda malam tidak perlu dibuat terlalu ambisius. Makan malam sederhana sambil menikmati suasana pusat kota sudah cukup untuk mengakhiri perjalanan.

Berapa Bujetnya?

Perjalanan sehari di Metro sebenarnya bisa dilakukan dengan bujet relatif ringan, terutama jika memilih taman kota dan destinasi yang tidak membutuhkan tiket masuk serta makan di warung lokal.

Perkiraan pengeluarannya adalah Rp10.000–Rp20.000 untuk sarapan, Rp15.000–Rp30.000 untuk makan siang, Rp10.000–Rp20.000 untuk jajanan atau minuman, serta Rp5.000–Rp15.000 untuk parkir dan kebutuhan kecil lainnya. Tiket wisata berada pada kisaran Rp0–Rp20.000, tergantung destinasi yang dipilih, sedangkan biaya bensin tentu menyesuaikan jarak perjalanan dan jenis kendaraan.

Dengan pola perjalanan seperti itu, bujet sekitar Rp50.000–Rp100.000 per orang masih bisa menjadi patokan untuk perjalanan sehari, di luar bensin dan biaya perjalanan dari luar kota. Angka tersebut tentu bukan tarif resmi karena harga makanan, tiket, dan biaya lainnya dapat berubah.

Sedikit Trik agar Tidak Boros

Ada beberapa hal sederhana yang bisa membuat perjalanan lebih hemat. Sepeda motor menjadi pilihan praktis jika bepergian berdua atau dalam kelompok kecil, sementara membawa botol minum sendiri dapat mengurangi pengeluaran kecil yang biasanya tidak terasa tetapi tiba-tiba membuat dompet menipis.

Kalau ingin mampir ke Payungi, datanglah pagi karena pasar hanya beroperasi pada waktu tertentu. Bawa pula payung dan uang tunai pecahan kecil untuk parkir atau membeli jajanan. Peta digital bisa digunakan untuk mengecek rute dan kondisi jalan terbaru, terutama ketika hendak menuju kawasan yang berada di luar pusat kota.

Dan ada satu aturan yang sebenarnya tidak membutuhkan aplikasi apa pun: jangan meninggalkan sampah. Taman, pasar, maupun kawasan bendungan tetap enak dinikmati kalau pengunjung ikut menjaga kebersihannya.

Pada akhirnya, sehari di Metro tidak perlu dibuat seperti perjalanan besar. Mulai dari taman, jalan kaki sedikit, berburu jajanan pada Minggu pagi, makan siang di warung, kemudian mencari udara sore di Dam Raman sudah cukup untuk mengenal beberapa sisi kota ini.

Metro mungkin bukan kota yang membuat orang harus menyiapkan koper besar untuk menjelajahinya. Justru karena itu, kota ini menarik dinikmati dengan cara yang sederhana: naik motor, berhenti ketika menemukan tempat yang menarik, makan ketika lapar, dan pulang sebelum badan protes karena terlalu banyak itinerary.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)