08117992581

Hanya 7 Hari Meditasi, Perubahan pada Otak dan Tubuh Mulai Terlihat

$rows[judul] Keterangan Gambar : Meditasi selama tujuh hari ternyata tidak hanya berkaitan dengan rasa rileks.foto/unsplash

Kota Metro, A1BOS.COM - Meditasi selama tujuh hari ternyata tidak hanya berkaitan dengan rasa rileks. Sebuah penelitian menemukan bahwa program intensif selama sepekan dapat diikuti perubahan terukur pada aktivitas otak, kimia darah, sistem kekebalan tubuh, metabolisme, hingga mekanisme alami tubuh dalam mengendalikan rasa sakit.

Peneliti juga menemukan tanda-tanda meningkatnya neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk beradaptasi, mengatur ulang diri, dan membentuk koneksi baru. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang lebih kompleks antara pengalaman mental dan perubahan biologis dalam tubuh.

Dikutip dan diadaptasi dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology, studi tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari University of California San Diego (UC San Diego) dengan dukungan InnerScience Research Fund.

Mengukur Dampak Meditasi pada Tubuh

Meditasi dan berbagai praktik yang berkaitan dengan pikiran dan tubuh telah digunakan selama ribuan tahun untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan. Namun, para ilmuwan masih berusaha memahami secara lebih rinci apa yang terjadi pada otak dan tubuh ketika seseorang menjalani praktik tersebut.

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya untuk mengukur dampak biologis dari beberapa praktik pikiran dan tubuh yang dilakukan secara bersamaan dalam program singkat tetapi intensif.

“Selama bertahun-tahun kita mengetahui bahwa praktik seperti meditasi dapat memengaruhi kesehatan. Namun, yang mengejutkan adalah ketika berbagai praktik pikiran dan tubuh digabungkan dalam satu retret, perubahan muncul pada begitu banyak sistem biologis yang bisa diukur langsung di otak dan darah,” kata Hemal H. Patel, Ph.D., profesor anestesiologi di Fakultas Kedokteran UC San Diego sekaligus ilmuwan karier penelitian di San Diego Veterans Affairs Healthcare System.

Menurut Patel, temuan tersebut bukan sekadar soal mengurangi stres atau membuat tubuh lebih rileks. Praktik tersebut tampaknya berkaitan dengan perubahan cara otak berinteraksi dengan pengalaman dan lingkungan.

Apa yang Dilakukan Peserta Selama 7 Hari?

Penelitian melibatkan 20 orang dewasa sehat yang mengikuti program residensial selama tujuh hari. Program tersebut dipimpin oleh Joe Dispenza, DC, seorang pendidik dan penulis di bidang ilmu saraf.

Selama retret, peserta mengikuti kuliah setiap hari, sekitar 33 jam meditasi terbimbing, serta berbagai praktik penyembuhan kelompok.

Sebagian praktik menggunakan pendekatan yang disebut open-label placebo atau plasebo terbuka. Dalam pendekatan ini, peserta mengetahui sejak awal bahwa tidak ada bahan medis aktif yang diberikan.

Para peneliti mempelajari pendekatan tersebut karena harapan, interaksi sosial, dan pengalaman mengikuti suatu pengobatan dapat menghasilkan perubahan yang bisa diukur, meskipun tidak ada obat aktif yang digunakan.

Sebelum dan sesudah retret, peserta menjalani pemindaian otak menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Pemeriksaan ini memungkinkan peneliti melihat perubahan aliran darah yang berkaitan dengan aktivitas berbagai area dan jaringan otak.

Peneliti juga mengambil sampel darah untuk melihat perubahan pada metabolisme, aktivitas sistem kekebalan tubuh, sinyal molekuler, dan berbagai proses biologis lainnya.

Perubahan Terlihat dari Otak hingga Sistem Kekebalan

Setelah retret, peneliti menemukan sejumlah perubahan biologis.

Selama meditasi, aktivitas di beberapa wilayah otak yang berkaitan dengan percakapan mental internal menjadi lebih rendah. Peneliti menafsirkan pola tersebut sebagai salah satu tanda bahwa fungsi otak dapat menjadi lebih efisien.

Tanda lain muncul dalam percobaan laboratorium yang berkaitan dengan neuroplastisitas.

Ketika neuron yang dikembangkan di laboratorium diberi plasma darah yang diambil dari peserta setelah retret, sel-sel tersebut mengembangkan cabang yang lebih panjang dan membentuk lebih banyak koneksi. Perubahan seperti ini umumnya berkaitan dengan kemampuan sel saraf untuk berkomunikasi dan beradaptasi.

Perubahan juga terlihat pada metabolisme. Sel yang terpapar plasma setelah retret menunjukkan peningkatan glikolisis, yaitu proses ketika sel memecah gula untuk menghasilkan energi.

Menurut peneliti, perubahan tersebut menunjukkan kondisi metabolisme yang lebih fleksibel dan adaptif.

Sistem Pengendalian Nyeri Ikut Berubah

Retret tersebut juga tampaknya memengaruhi sistem alami tubuh dalam mengendalikan rasa sakit.

Kadar opioid endogen dalam darah meningkat setelah program. Opioid endogen merupakan zat kimia yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan bekerja pada beberapa sistem biologis yang juga menjadi sasaran obat penghilang rasa sakit berbasis opioid.

Perubahan juga ditemukan pada sinyal sistem kekebalan tubuh.

Sinyal yang berkaitan dengan peradangan maupun antiperadangan sama-sama meningkat. Hal ini menunjukkan respons sistem kekebalan yang lebih kompleks, bukan sekadar menjadi lebih aktif atau kurang aktif.

Peneliti juga menemukan perubahan pada molekul RNA kecil dan pola aktivitas gen dalam darah, terutama pada jalur biologis yang berkaitan dengan fungsi otak.

Molekul RNA kecil berperan dalam mengatur bagaimana gen diekspresikan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa efek retret tidak hanya terlihat pada aktivitas otak, tetapi juga pada proses biologis di tingkat sel.

Pengalaman Mistis Berkaitan dengan Konektivitas Otak

Peneliti tidak hanya mengukur perubahan biologis. Mereka juga melihat pengalaman subjektif yang dialami peserta selama meditasi.

Para peserta mengisi Mystical Experience Questionnaire atau MEQ-30. Kuesioner tersebut digunakan untuk mengukur pengalaman seperti rasa menyatu, melampaui pengalaman biasa, dan perubahan kesadaran.

Skor rata-rata peserta meningkat dari 2,37 sebelum retret menjadi 3,02 setelah program berakhir.

Peserta yang melaporkan pengalaman mistis lebih kuat juga cenderung menunjukkan perubahan biologis yang lebih besar. Salah satunya terlihat pada meningkatnya integrasi aktivitas di antara berbagai wilayah otak.

Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara komunikasi yang lebih terintegrasi di jaringan otak dan pengalaman perubahan kesadaran yang mendalam.

Polanya Mirip dengan Pengalaman Psikedelik

Salah satu temuan yang menarik perhatian peneliti adalah pola aktivitas otak yang memiliki kemiripan dengan perubahan yang sebelumnya ditemukan pada orang yang menggunakan zat psikedelik.

Menurut Patel, meditasi intensif tampaknya dapat menghasilkan beberapa bentuk konektivitas saraf yang juga dikaitkan dengan pengalaman psikedelik, meskipun peserta penelitian tidak menggunakan obat psikedelik.

“Kami melihat pengalaman mistis dan pola konektivitas saraf yang sama yang biasanya membutuhkan psilocybin, kini dicapai hanya melalui praktik meditasi,” kata Patel.

Psilocybin merupakan senyawa psikoaktif yang ditemukan pada jenis jamur psikedelik tertentu. Senyawa ini banyak diteliti karena dapat mengubah persepsi, suasana hati, serta cara berbagai jaringan otak berkomunikasi.

Namun, kemiripan tersebut tidak berarti meditasi dan obat psikedelik menghasilkan efek yang sama.

Peneliti menilai dua pengalaman yang sangat berbeda dapat melibatkan sebagian proses otak yang saling tumpang tindih, terutama yang berkaitan dengan perubahan keadaan kesadaran.

Apa Artinya bagi Kesehatan dan Rasa Sakit?

Temuan tersebut memberikan kerangka biologis yang dapat digunakan untuk mempelajari bagaimana praktik pikiran dan tubuh tanpa obat mungkin berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan.

Peningkatan neuroplastisitas berpotensi berkaitan dengan proses yang mendukung kesehatan mental, pembelajaran, pengaturan emosi, dan ketahanan terhadap stres.

Perubahan pada sistem kekebalan tubuh juga menjadi perhatian untuk penelitian berikutnya. Namun, para peneliti masih perlu memastikan apakah perubahan tersebut konsisten dan memiliki arti klinis.

Peningkatan opioid endogen juga menarik untuk penelitian mengenai rasa sakit. Karena zat tersebut merupakan bagian dari sistem alami tubuh dalam mengatur rasa sakit, para peneliti ingin mengetahui apakah kombinasi praktik dalam retret dapat memiliki manfaat bagi pengelolaan nyeri kronis.

Meski demikian, penelitian ini dilakukan pada orang dewasa sehat, bukan pasien dengan penyakit tertentu. Karena itu, penelitian klinis terkontrol masih diperlukan untuk memastikan apakah perubahan biologis yang ditemukan benar-benar menghasilkan manfaat pengobatan.

Tim peneliti selanjutnya tertarik menguji apakah program serupa dapat membantu orang dengan nyeri kronis, gangguan suasana hati, atau kondisi yang berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh.

Belum Diketahui Praktik Mana yang Paling Berpengaruh

Masih ada pertanyaan penting yang belum terjawab. Peneliti belum dapat menentukan bagian mana dari program tujuh hari tersebut yang paling bertanggung jawab atas perubahan yang ditemukan.

Peserta menjalani beberapa intervensi sekaligus, termasuk meditasi, rekonseptualisasi, dan praktik penyembuhan dengan pendekatan plasebo terbuka.

Karena seluruh kegiatan dilakukan dalam satu program, penelitian ini belum bisa menunjukkan seberapa besar kontribusi masing-masing praktik.

Penelitian berikutnya akan menguji komponen-komponen tersebut secara terpisah maupun dalam berbagai kombinasi.

Para ilmuwan juga ingin mengetahui berapa lama perubahan biologis tersebut bertahan dan apakah pengulangan program dapat memperkuat atau mempertahankan perubahan tersebut.

“Studi ini menunjukkan bahwa pikiran dan tubuh kita sangat saling terkait. Apa yang kita yakini, bagaimana kita memusatkan perhatian, dan praktik yang kita jalani dapat meninggalkan jejak yang terukur pada biologi kita,” kata Alex Jinich-Diamant, penulis utama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral di Departemen Ilmu Kognitif dan Anestesiologi UC San Diego.

Menurut Jinich-Diamant, temuan tersebut menjadi langkah untuk memahami hubungan antara pengalaman sadar dan kesehatan fisik, sekaligus mencari cara baru memanfaatkan hubungan tersebut untuk mendukung kesejahteraan.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa meditasi intensif selama tujuh hari dapat disertai perubahan yang terukur pada otak dan berbagai sistem tubuh. Namun, temuan tersebut masih merupakan dasar untuk penelitian lanjutan, bukan bukti bahwa meditasi selama seminggu dapat menjadi pengobatan untuk penyakit tertentu.(bs)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)