08117992581

Bukan Malas, 5 Tanda Anda Mulai Kehilangan Arah dalam Karier

$rows[judul] Keterangan Gambar : Ilustrasi dibuat degan bantuan AI.

Kota Metro, A1BOS.COM - Ada masa ketika pekerjaan terasa begitu berat. Bangun pagi tidak lagi bersemangat, pekerjaan yang biasanya mudah mulai terasa membosankan, dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang baru ikut menghilang.

Kondisi itu sering disebut malas. Padahal, belum tentu.

Bisa jadi seseorang sedang kehilangan arah dalam karier. Pekerjaan masih dilakukan seperti biasa, tetapi ia tidak lagi melihat tujuan yang ingin dicapai. Hari-hari berjalan, target diselesaikan, gaji diterima, tetapi muncul pertanyaan yang semakin sering mengganggu: sebenarnya saya mau ke mana?

Perasaan seperti itu bisa muncul tanpa disadari. Ada beberapa tanda yang dapat diperhatikan.

1. Bekerja Sekadar Menyelesaikan Kewajiban

Salah satu tanda awalnya adalah pekerjaan mulai dijalani sekadar untuk menyelesaikan kewajiban.

Datang, bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pulang. Tidak ada masalah besar dengan pekerjaan. Namun, tidak ada pula dorongan untuk melakukan lebih dari yang diminta.

Sesekali mengalami kondisi seperti ini tentu wajar. Semua orang bisa merasa lelah atau jenuh.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika keadaan tersebut berlangsung lama.

Pekerjaan tidak lagi memberikan rasa ingin tahu. Kesempatan belajar tidak menarik perhatian. Bahkan keberhasilan menyelesaikan sebuah tugas tidak memberikan kepuasan seperti sebelumnya.

Pada titik ini, persoalannya mungkin bukan sekadar kurang rajin. Bisa jadi seseorang sudah tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk merasa terlibat dengan pekerjaannya.

2. Tidak Lagi Ingin Mengembangkan Diri

Karier hampir selalu membutuhkan proses belajar. Tidak harus selalu melalui pendidikan formal. Bisa dengan mempelajari teknologi baru, mengikuti pelatihan, membaca buku, memperluas jaringan atau mencoba tanggung jawab berbeda.

Masalah muncul ketika semua itu mulai terasa tidak penting. Ada kesempatan mengikuti pelatihan, tetapi tidak tertarik. Ada posisi baru yang sebenarnya bisa menjadi tantangan, tetapi justru ingin dihindari. Bahkan mempelajari kemampuan baru terasa seperti pekerjaan tambahan.

Cal Newport, penulis So Good They Can’t Ignore You, melihat karier dari sudut yang menarik. Menurutnya, kepuasan kerja tidak selalu muncul karena seseorang sejak awal menemukan pekerjaan yang menjadi passion-nya. Kemampuan yang semakin kuat dan bernilai justru dapat membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih memuaskan serta memiliki kendali lebih besar.

Karena itu, ketika keinginan untuk berkembang benar-benar hilang, ada baiknya melihat kembali hubungan antara pekerjaan yang dijalani dan kemampuan yang ingin dibangun.

Mungkin bukan tidak mampu berkembang. Mungkin sudah tidak tahu lagi untuk apa harus berkembang.

3. Sulit Membayangkan Masa Depan Karier

Coba bayangkan diri sendiri tiga tahun dari sekarang.

Apakah masih berada di bidang yang sama? Menduduki posisi yang berbeda? Memiliki keahlian baru? Atau justru menjalankan pekerjaan yang sama tanpa perubahan?

Tidak ada kewajiban memiliki rencana karier yang sangat rinci. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, jika pertanyaan tentang masa depan selalu berakhir dengan “tidak tahu”, kondisi itu layak diperhatikan.

Manfred F.R. Kets de Vries, profesor kepemimpinan dan pengembangan organisasi di INSEAD, pernah membahas kondisi ketika seseorang terlihat berhasil secara profesional tetapi tetap merasa bosan dan kehilangan kepuasan dalam pekerjaannya.

Ini menunjukkan bahwa posisi dan pencapaian tidak selalu otomatis membuat seseorang merasa berada di jalur yang tepat. Karier bisa terlihat baik dari luar, tetapi terasa kosong bagi orang yang menjalaninya.

4. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Teman sudah naik jabatan. Rekan kerja membuka usaha. Mantan teman kuliah pindah ke perusahaan yang lebih besar.

Sementara itu, karier sendiri terasa tidak bergerak. Perbandingan semacam itu mudah terjadi, terutama ketika media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat setiap hari. Masalahnya, kita sering membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir yang ditampilkan orang lain.

Adam Grant, psikolog organisasi dan penulis Think Again, menekankan pentingnya kemampuan untuk meninjau kembali asumsi dan cara berpikir. Dalam urusan karier, gagasan itu relevan ketika seseorang mulai menggunakan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilannya sendiri.

Pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa saya belum seperti dia?”

Lebih berguna jika pertanyaannya diubah menjadi, “Sebenarnya, keberhasilan seperti apa yang saya inginkan?”

Jawaban atas pertanyaan itu bisa berbeda untuk setiap orang.

5. Pekerjaan Mulai Kehilangan Makna

Tanda terakhir biasanya terasa lebih dalam. Seseorang masih bekerja, tetapi mulai sering bertanya, “Saya melakukan semua ini untuk apa?”

Bukan berarti pekerjaan harus selalu menyenangkan. Setiap profesi memiliki bagian yang membosankan, melelahkan, bahkan membuat frustrasi.

Namun, jika seseorang tidak lagi melihat hubungan antara pekerjaannya dengan sesuatu yang dianggap penting dalam hidupnya, rasa jenuh bisa semakin kuat.

Simon Sinek, penulis dan pembicara yang dikenal lewat gagasan Start With Why, menempatkan alasan di balik sebuah pekerjaan atau tindakan sebagai sesuatu yang penting. Bagi seseorang, alasan itu bisa berupa kontribusi, keluarga, kebebasan, pencapaian atau keinginan untuk membangun sesuatu.

Tidak harus selalu berupa tujuan besar. Pekerjaan sederhana pun bisa terasa berarti ketika seseorang memahami alasan mengapa pekerjaan tersebut penting baginya.

Jangan Langsung Menyebut Diri Malas

Kehilangan motivasi tidak selalu berarti seseorang malas.

Kadang memang tubuh membutuhkan istirahat. Kadang pekerjaan sedang terlalu banyak. Tetapi ada pula saat ketika yang dibutuhkan bukan sekadar libur beberapa hari, melainkan evaluasi terhadap arah karier.

Coba lihat kembali beberapa tahun terakhir. Apakah masih ada sesuatu yang ingin dipelajari? Apakah pekerjaan sekarang membawa kita mendekati kehidupan yang diinginkan? Apakah target yang dikejar memang berasal dari keinginan sendiri?

Cal Newport berpendapat bahwa karier yang memuaskan dapat dibangun melalui pengembangan kemampuan yang bernilai, bukan semata-mata dengan menunggu pekerjaan yang dianggap sempurna.

Sementara gagasan Adam Grant tentang rethinking mengingatkan bahwa apa yang kita yakini hari ini tidak selalu harus menjadi pegangan selamanya.

Artinya, mengubah arah karier bukan selalu tanda gagal. Kadang seseorang memang perlu berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang sudah ditempuh, lalu menentukan apakah masih ingin melanjutkannya.

Jadi, ketika pekerjaan mulai terasa berat dan semangat perlahan hilang, jangan buru-buru menyebut diri sendiri malas.

Bisa jadi yang sedang hilang bukan kemauan untuk bekerja, melainkan arah untuk melangkah.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)