08117992581

5 Makanan Jalanan dari Berbagai Negara yang Populer di Indonesia

$rows[judul] Keterangan Gambar : Tokayaki. foto/pinterest

Kota Metro, A1BOS.COM - Jajanan pinggir jalan punya satu kelebihan yang sulit ditandingi restoran: orang bisa langsung mencoba tanpa banyak seremoni.

Menariknya, tidak semua jajanan yang sekarang akrab di Indonesia lahir dari dapur lokal. Beberapa datang dari negara lain, kemudian beradaptasi dengan selera masyarakat Indonesia. Ada yang bertahan dengan ciri khas aslinya, ada pula yang justru berkembang dengan varian baru.

Perjalanan itu membuat makanan jalanan asing terasa semakin dekat. Bahkan, sebagian sudah begitu mudah ditemukan sampai orang tidak lagi terlalu memikirkan dari mana makanan tersebut berasal.

Berikut lima makanan jalanan dari berbagai negara yang populer di Indonesia.

1. Takoyaki dari Jepang

Takoyaki punya bentuk yang langsung mudah dikenali. Bola-bola kecil berwarna kecokelatan ini biasanya dimasak di atas cetakan khusus dan berisi potongan gurita.

Jajanan yang berasal dari Osaka, Jepang, tersebut kemudian menemukan pasar yang luas di Indonesia. Menariknya, isian takoyaki di sini tidak selalu gurita.

Sosis, ayam, keju, hingga berbagai bahan lain sering digunakan. Saus, mayones, dan taburan bonito flakes membuat rasanya semakin akrab dengan lidah konsumen Indonesia.

Takoyaki akhirnya bukan lagi sekadar makanan Jepang. Ia sudah menjadi salah satu pilihan jajanan yang mudah ditemukan di pusat perbelanjaan, kawasan kuliner, maupun gerai kecil.

2. Kebab dari Turki

Kebab punya penampilan sederhana, tetapi cukup mengenyangkan. Daging yang dipanggang kemudian diiris tipis dan dibungkus bersama roti, sayuran, serta saus.

Di Indonesia, kebab berkembang dengan gaya sendiri. Tingkat kepedasan, jenis saus, sampai ukuran porsinya bisa berbeda antara satu penjual dan penjual lain.

Popularitasnya juga tidak terbatas di mal. Banyak gerai kebab justru tumbuh di pinggir jalan dan kawasan yang ramai pada malam hari.

Itulah yang membuat kebab mudah masuk ke kategori makanan jalanan Indonesia: praktis, bisa dibawa, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk disantap.

3. Corndog dari Korea Selatan

Corndog menjadi salah satu jajanan yang ikut terdorong oleh gelombang popularitas budaya Korea Selatan.

Bentuk dasarnya sederhana. Sosis atau keju ditusuk, dilapisi adonan, kemudian digoreng sampai bagian luarnya renyah.

Namun, corndog yang dijual di Indonesia sering tampil lebih meriah. Ada tambahan saus, mayones, gula, hingga berbagai topping. Varian keju juga menjadi daya tarik tersendiri karena memberikan tekstur berbeda ketika disantap.

Dari jajanan jalanan Korea, corndog kemudian berubah menjadi camilan yang cocok dengan kebiasaan jajan anak muda di Indonesia.

4. Churros dari Spanyol

Churros tidak membutuhkan bentuk yang rumit untuk menarik perhatian. Adonan digoreng hingga memanjang dengan permukaan bertekstur, kemudian disajikan bersama gula atau saus.

Di Indonesia, churros berkembang menjadi camilan dengan banyak pilihan rasa. Saus cokelat, karamel, keju, sampai matcha bisa menjadi pelengkap.

Teksturnya juga menjadi alasan churros mudah disukai. Bagian luarnya renyah, sedangkan bagian dalamnya lebih lembut.

Jajanan asal Spanyol ini akhirnya tidak hanya muncul di restoran atau kafe. Churros juga bisa ditemukan di berbagai gerai makanan ringan.

5. Egg Waffle dari Hong Kong

Egg waffle punya tampilan yang berbeda dari kebanyakan jajanan jalanan. Adonannya dimasak menggunakan cetakan khusus hingga menghasilkan bulatan-bulatan kecil yang menonjol.

Dari Hong Kong, egg waffle kemudian ikut masuk ke tren jajanan modern di Indonesia. Penyajiannya pun sering dibuat lebih menarik dengan tambahan es krim, buah, cokelat, atau topping lainnya.

Yang menarik bukan hanya rasanya. Bentuk egg waffle membuat makanan ini cukup mudah dikenali bahkan sebelum disantap.

Lima makanan tersebut menunjukkan bagaimana jajanan bisa melakukan perjalanan jauh dari negara asalnya. Begitu sampai di Indonesia, resepnya bisa berubah, topping bertambah, dan cara penyajiannya menyesuaikan kebiasaan lokal.

Pada akhirnya, yang bertahan bukan hanya nama makanan dari negara asal, tetapi juga kemampuan jajanan tersebut untuk menemukan tempat di selera masyarakat Indonesia.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)