Kota Metro, A1BOS.COM -Keinginan pindah karier bisa muncul setelah seseorang bertahun-tahun menjalani pekerjaan yang sama.
Pada usia 30, seseorang mungkin mulai mempertanyakan apakah bidang yang dipilih setelah lulus kuliah benar-benar sesuai dengan dirinya. Pada usia 40, pertanyaan yang muncul bisa lebih kompleks karena sudah ada tanggungan keluarga, kebutuhan finansial, dan posisi profesional yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Lalu muncul kekhawatiran: apakah masih masuk akal untuk memulai arah karier baru?
Bagi sebagian orang, jawabannya bisa ditemukan bukan dengan menghapus pengalaman lama, melainkan dengan menggunakannya sebagai modal untuk memasuki tahap berikutnya.
Dalam artikel tinjauan berjudul Career Transition and Professional Identity: Dynamic Processes, Multiple Selves, and Nonlinear Trajectories yang diterbitkan dalam Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior pada 2026, Herminia Ibarra, Sarah Wittman, dan Kendall Smith membahas bagaimana transisi karier dapat berlangsung secara tidak linear dan berkaitan dengan perubahan identitas profesional.
Ibarra adalah Charles Handy Professor of Organisational Behaviour di London Business School dan peneliti yang banyak mengkaji karier, identitas profesional, serta perubahan organisasi. Wittman dan Smith juga terlibat dalam kajian mengenai proses transisi dan identitas dalam kehidupan kerja.
Perspektif tersebut penting karena karier seseorang tidak selalu harus mengikuti satu jalur sejak pekerjaan pertama sampai pensiun.
Seseorang dapat berpindah peran, industri, organisasi, atau model kerja ketika kebutuhan dan tujuan profesionalnya berubah.
Namun, pindah karier bukan berarti selalu harus memulai dari nol.
Pengalaman mengelola proyek, memimpin tim, berkomunikasi dengan pelanggan, melakukan riset, menjual produk, atau menyelesaikan masalah tetap bisa digunakan di bidang lain.
Ada perbedaan antara career change dan career pivot.
Career change biasanya berarti berpindah ke profesi atau bidang yang cukup berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Perubahan tersebut bisa membutuhkan keterampilan, pendidikan, atau pengalaman baru yang cukup besar.
Sementara itu, career pivot lebih sering berarti menggunakan pengalaman dan keterampilan lama untuk memasuki peran, industri, atau model kerja baru.
Misalnya, seorang jurnalis berpindah ke komunikasi perusahaan. Bidangnya berubah, tetapi kemampuan menulis, melakukan riset, mewawancarai narasumber, memahami audiens, dan mengolah informasi masih dapat digunakan.
Begitu pula seorang tenaga pemasaran yang masuk ke industri teknologi. Ia memang berpindah industri, tetapi pengalaman memahami konsumen, menyusun strategi pemasaran, dan membaca data tetap relevan.
Karena itu, sebelum mengatakan ingin memulai karier baru, seseorang perlu melihat kembali keterampilan apa yang sebenarnya sudah dimiliki.
Bagi sebagian orang, usia 30-an menjadi periode ketika pengalaman kerja mulai membantu mereka memahami minat, kekuatan, dan lingkungan kerja yang sesuai.
Setelah beberapa tahun bekerja, seseorang mungkin sudah mempunyai gambaran mengenai pekerjaan yang disukai dan jenis pekerjaan yang tidak cocok.
Tetapi keinginan pindah karier tidak otomatis berarti pekerjaan sebelumnya adalah sebuah kesalahan.
Pengalaman beberapa tahun di satu bidang justru dapat membantu seseorang mengenali kemampuan yang bisa dibawa ke pekerjaan berikutnya.
Karena itu, keputusan pada usia 30 sebaiknya tidak selalu berupa perubahan total.
Seseorang dapat menguji bidang baru melalui kursus, proyek sampingan, pekerjaan freelance, komunitas profesional, atau percakapan dengan orang yang sudah bekerja di bidang tersebut.
Dengan begitu, keputusan tidak hanya didasarkan pada bayangan tentang pekerjaan baru.
Pada usia 40, keputusan pindah karier bisa melibatkan pertimbangan yang lebih banyak.
Ada tanggungan keluarga, cicilan, kebutuhan pendidikan anak, tabungan pensiun, dan kemungkinan perubahan pendapatan.
Namun, pengalaman profesional yang telah dikumpulkan selama belasan tahun juga dapat menjadi modal penting.
Kathy Caprino, career coach, penulis, dan mantan corporate vice president, merupakan salah satu contoh profesional yang melakukan perubahan karier setelah usia 40. Dalam tulisan di Forbes, Caprino menceritakan bahwa ia meninggalkan karier korporat pada usia 41 tahun dan kemudian menekuni bidang terapi, coaching karier, pelatihan eksekutif, serta penulisan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan karier setelah 40 bukan berarti tidak mungkin.
Tetapi perubahan tersebut perlu direncanakan sesuai kondisi nyata masing-masing orang.
Meski usia 30 dan 40 memiliki tantangan yang berbeda, angka tersebut bukan satu-satunya penentu. Kondisi finansial, tanggungan keluarga, kesehatan, keterampilan, pendidikan, serta peluang di industri tujuan juga perlu dipertimbangkan.
Salah satu risiko ketika seseorang merasa sudah tidak cocok dengan pekerjaannya adalah mengambil keputusan secara mendadak.
Padahal, belum tentu masalahnya terletak pada profesi.
Bisa saja yang membuat seseorang tidak nyaman adalah perusahaan, atasan, budaya kerja, beban kerja, atau kurangnya kesempatan berkembang.
Karena itu, sebelum pindah, penting untuk mengetahui masalah sebenarnya.
Jika memang bidang pekerjaannya yang ingin ditinggalkan, langkah berikutnya adalah mencari tahu bidang tujuan.
Herminia Ibarra dalam berbagai kajiannya mengenai transisi karier menekankan pentingnya eksplorasi dalam proses perubahan karier. Kejelasan mengenai arah baru tidak selalu muncul sebelum seseorang mencoba sesuatu. Dalam banyak kasus, pengalaman baru justru membantu seseorang memahami pilihan kariernya.
Karena itu, eksperimen kecil bisa menjadi langkah awal.
Ikuti pelatihan. Ambil proyek sampingan. Bangun jaringan di industri baru. Atau kerjakan proyek yang memungkinkan keterampilan lama digunakan dalam konteks berbeda.
Dari sana, seseorang dapat melihat apakah bidang tersebut memang cocok.
Pindah karier sering kali dianggap sebagai memulai kembali dari bawah.
Padahal, tidak selalu demikian.
Seorang akuntan yang masuk ke dunia bisnis membawa kemampuan membaca laporan keuangan. Guru yang masuk ke bidang pelatihan perusahaan membawa pengalaman menyampaikan materi dan mengelola peserta. Profesional penjualan yang masuk ke bisnis digital membawa pengalaman memahami pelanggan.
Keterampilan seperti komunikasi, kepemimpinan, analisis, negosiasi, pemecahan masalah, dan pengelolaan proyek sering kali dapat digunakan di berbagai bidang.
Inilah yang membuat career pivot berbeda dari memulai karier sepenuhnya dari nol.
Semakin jelas hubungan antara pengalaman lama dan pekerjaan baru, semakin mudah pula menjelaskan kepada calon pemberi kerja mengapa perpindahan tersebut masuk akal.
Perubahan karier juga dapat menyentuh persoalan identitas profesional.
Dalam artikel Career Transition and Professional Identity: Dynamic Processes, Multiple Selves, and Nonlinear Trajectories, Ibarra, Wittman, dan Smith membahas identitas profesional sebagai bagian penting dalam proses transisi karier.
Persoalan ini dapat muncul dalam situasi sederhana.
Seorang manajer yang selama bertahun-tahun terbiasa menjadi pengambil keputusan mungkin merasa canggung ketika harus kembali belajar dari dasar.
Seorang profesional yang selama bertahun-tahun dikenal melalui jabatan tertentu juga bisa merasa kehilangan status ketika masuk ke bidang baru.
Ada pula tekanan dari lingkungan.
Teman atau keluarga mungkin bertanya mengapa seseorang meninggalkan posisi yang sudah mapan.
Karena itu, tantangan pindah karier bukan sekadar mempelajari keterampilan baru. Seseorang juga perlu menyesuaikan cara melihat dirinya sendiri dan menjelaskan kepada orang lain bagaimana pengalaman masa lalunya tetap relevan.
Tidak ada angka usia yang otomatis menjadi batas untuk pindah karier.
Yang lebih penting adalah kesiapan menghadapi konsekuensinya.
Sebelum mengambil keputusan, beberapa pertanyaan layak diajukan.
Apakah yang ingin ditinggalkan benar-benar profesinya atau hanya lingkungan kerja saat ini?
Keterampilan apa dari pekerjaan lama yang masih bisa digunakan?
Apakah bidang baru membutuhkan pendidikan atau sertifikasi tambahan?
Berapa besar kemungkinan pendapatan berubah?
Berapa lama kondisi keuangan bisa menopang masa transisi?
Dan apakah bidang baru sudah pernah dicoba dalam skala kecil?
Pertanyaan tersebut membantu mengubah keinginan pindah karier menjadi rencana yang lebih konkret.
Usia 30 atau 40 bukan garis akhir perjalanan profesional.
Namun, pindah karier pada usia tersebut memang mempunyai konsekuensi yang berbeda dibandingkan ketika seseorang baru memasuki dunia kerja.
Tanggung jawab bisa lebih besar. Risiko finansial perlu dihitung. Waktu untuk belajar juga harus diperhitungkan.
Di sisi lain, seseorang sudah memiliki sesuatu yang belum tentu dimiliki ketika baru lulus kuliah: pengalaman.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan sekadar “Apakah saya sudah terlambat?”
Pertanyaannya adalah “Pengalaman apa yang sudah saya miliki, dan bagaimana pengalaman itu bisa digunakan untuk membangun karier berikutnya?”
Bagi sebagian orang, jawabannya mungkin bukan meninggalkan semua yang telah dibangun.
Bisa jadi, langkah berikutnya justru merupakan kelanjutan dari perjalanan lama dengan arah yang berbeda.
Tulis Komentar