Kota Metro, A1BOS.COM - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro melaksanakan sosialisasi Tim Penanganan Pencegahan Kekerasan (TPPK) pada lingkungan pendidikan tingkat SD dan SMP Kota Metro di Ballroom Hotel Grand Sekuntum, Rabu (21/08/2024).
Hal tersebut bertujuan guna menekan kasus anak yang terjadi di Kota Metro yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Fezal Afrizal, giat tersebut merupakan tindak lanjut dari Tim Penanganan Pencegahan Kekerasan (TPPK) di Kota Metro.

"Jadi lingkup besarnya ini kita mengadakan sosialisasi menyampaikan bagaimana penanganan di tingkat daerah dan bagaimana cara penyelesaiannya," ujarnya.
Adapun guna memudahkan pengaduan masyarakat jika melihat kekerasan kepada dinas terkait pihaknya telah membuat inovasi barcode yang akan dipasang di tiap-tiap sekolah yang akan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Metro.
"Ini yang hadir Kepala Sekolah SD dan SMP, besok perwakilan komite SD dan SMP dan hari Jum'atnya guru BK SD dan SMP," tuturnya.
Fezal menargetkan, maraknya kasus kekerasan yang ada di sekolah-sekolah Kota Metro menurun, agar menjadi lebih aman, nyaman, dan menyenangkan.
"Semua tindak kekerasan yang lingkupnya publik ya atau semua masalah kekerasan yang tidak selesai di tingkat sekolah maka akan dibantu oleh tim tingkat daerah.
"Timnya kita melibatkan semua, LPAI, Kapolres, narasumber selaku tim itu masuk semua," katanya.
"Kami juga sudah mensosialisasikan kepada murid-murid jika melihat suatu tindakan kekerasan untuk segera melapor kepada guru atau kepada orang tua di sekitarnya," ungkapnya.
Terlihat hadir Fasilitator Nasional Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) Provinsi Lampung, Prof. Dr. Sowiyah, M.Pd., dalam giat tersebut menyampaikan, bahwa dirinya berdiskusi kepada Kepala Sekolah SD dan SMP se-Kota Metro.

"Sharing tentang bagaimana penanganan kekerasan dan pencegahan di satuan pendidikan yang mana anak-anak inikan menjadi roll model, jadi apapun bentuknya orang tua menjadi contoh bagi anak-anak dimana tidak terlepas dari kompetensi anak masing-masing," jelasnya.
Sementara itu pihaknya menuturkan, tentang bagaimana penerapan pembelajaran yang mendiskriminasi.
"Tentunya di sini sekolah itu bisa menerapkan disiplin positif, mengucapkan bahasa-bahasa yang positif yang tentunya anak-anak bermasalah itu harus ditolong," paparnya.
"Misal anak terlambat itu kita harus tau kenapa dia terlambat, kenapa dia menjadi keterbiasaan "Lu Lagi Lu Lagi (4L)", itu terus terang aja mungkin karena latar belakang orang tua atau mungkin lingkungan keluarga dan masyarakat yang kurang mendukung tumbuh kembang anak sehingga berdampak pada sekolah dan ini menjadi tugas satuan pendidikan untuk membantu anak-anak sedemikian, sehingga anak-anak mengetahui bahwa dia sudah melakukan yang merugikan bagi dirinya," terangnya.
"Tidak ada anak bandel, yang ada anak tidak terpenuhi kebutuhannya sehingga anak melakukan hal yang negatif seperti itu dan pencegahannya adalah satuan pendidikan harus mengetahui latar belakang dari anak itu baik pendidikan, lingkungan itu harus tau," lanjutnya.
Sowiyah menambahkan, jika mengetahui dari dampaknya maka kita bisa menyelesaikannya.
"Karena di sini banyak pakarlah jangan sendiri, satuan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri jadi tentunya ada ahli-ahli dari pendidikan atau komunitas yang konsen dalam penanganan kasus pada anak, jadi anak-anak ini tertolong karena anak-anak korban dari orang dewasa yang belum memposisikan dia di mana dirinya harus berada," pungkasnya. (Aliando)
Tulis Komentar