Keterangan Gambar : ilustrasi/unsplash
Kota Metro, A1BOS.COM - Melihat teman sebaya membeli rumah, mendapatkan promosi jabatan, atau sukses membangun bisnis terkadang membuat kita bertanya-tanya: mengapa hidup saya belum sampai di sana?
Perasaan itu bisa muncul ketika menghadiri reuni, membuka media sosial, atau mendengar cerita keberhasilan orang lain. Kita mulai menghitung pencapaian sendiri, lalu merasa tertinggal karena kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.
Padahal, pencapaian seseorang tidak selalu bisa dibandingkan secara langsung dengan pencapaian orang lain. Ada yang sedang membangun karier, ada yang merintis usaha, dan ada pula yang harus memprioritaskan keluarga atau memulihkan kondisi keuangan.
Persoalannya bukan semata-mata karena orang lain lebih sukses. Cara kita memandang keberhasilan mereka juga memengaruhi cara kita menilai diri sendiri.
Lantas, bagaimana menghadapi perasaan tertinggal tanpa kehilangan motivasi untuk berkembang?
Psikologi menawarkan sejumlah pendekatan yang bisa membantu, mulai dari memahami perbandingan sosial hingga belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.
Psikolog sosial Leon Festinger memperkenalkan teori perbandingan sosial pada 1954. Teori ini menjelaskan kecenderungan manusia mengevaluasi kemampuan dan pendapatnya dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menggunakan keberhasilan teman sebagai tolok ukur untuk menilai kemajuan sendiri.
Kebiasaan tersebut tidak selalu merugikan. Melihat orang lain berhasil bisa memberi inspirasi atau membantu kita mengenali kemampuan yang perlu dikembangkan. Namun, perbandingan juga dapat membuat kita merasa tidak mampu ketika terlalu berfokus pada keunggulan orang lain.
Tinjauan penelitian Jan P. Gerber, J. C. Wheeler, dan Joel Suls yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Bulletin pada 2018 membahas lebih dari enam dekade penelitian tentang perbandingan sosial. Temuan mereka menunjukkan bahwa membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul dapat memengaruhi penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Dampaknya bergantung pada konteks dan cara perbandingan itu diproses.
Karena itu, ketika melihat teman lebih berhasil, cobalah mengenali perasaan yang muncul.
Apakah kita merasa terinspirasi, iri, kecewa, atau takut kehilangan kesempatan? Mengenali emosi tersebut membantu kita menentukan respons yang lebih bermanfaat daripada langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri gagal.
Tekanan untuk mencapai keberhasilan pada usia tertentu sering membuat seseorang merasa terlambat.
Pada usia 30 tahun, misalnya, seseorang mungkin merasa seharusnya sudah memiliki rumah, pekerjaan tetap, dan tabungan yang cukup. Ketika kenyataan berbeda, ia menganggap hidupnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Padahal, kondisi setiap orang tidak sama.
Seseorang yang berusia 35 tahun mungkin sedang mengembangkan karier. Orang lain pada usia yang sama bisa jadi tengah merawat orang tua, membangun dana darurat setelah kehilangan pekerjaan, atau memulai usaha dari nol.
Situasi tersebut memerlukan strategi dan waktu yang berbeda.
Alih-alih terus bertanya mengapa belum mencapai sesuatu seperti teman, tentukan terlebih dahulu apa yang benar-benar ingin dicapai.
Jika ingin memperbaiki kondisi keuangan, mulailah dengan mengevaluasi pengeluaran dan menyusun rencana tabungan. Jika ingin meningkatkan karier, identifikasi keterampilan yang dibutuhkan untuk memperoleh peluang baru.
Tujuannya bukan mengabaikan keberhasilan orang lain, melainkan memastikan bahwa keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadi.
Rasa iri tidak perlu selalu disangkal. Perasaan tersebut bisa muncul secara spontan ketika melihat orang lain mencapai sesuatu yang kita inginkan.
Namun, kita tetap bisa memilih tindakan setelah perasaan itu muncul.
Dalam artikel Feel Like You’re Falling Behind Your Peers? yang diterbitkan Harvard Business Review pada 2020, executive coach Nihar Chhaya membahas cara menghadapi perasaan tertinggal dari rekan sebaya dan melihat pencapaian mereka sebagai peluang untuk belajar.
Tulisan tersebut merupakan panduan praktis, bukan penelitian ilmiah primer. Meski demikian, gagasannya relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seorang teman berhasil mengembangkan usaha kuliner. Daripada terus membandingkan omzetnya dengan penghasilan sendiri, perhatikan hal-hal yang mungkin bisa dipelajari.
Bagaimana ia memasarkan produk? Bagaimana ia menjaga pelanggan? Strategi apa yang membuat usahanya berkembang?
Tidak semua cara tersebut cocok diterapkan pada kondisi kita. Modal, pengalaman, jaringan, dan kebutuhan pasar bisa berbeda.
Karena itu, ambil pelajaran yang relevan tanpa merasa harus meniru seluruh perjalanan orang lain.
Keberhasilan teman tidak perlu menjadi alasan untuk merendahkan diri. Jadikan pencapaian tersebut sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.
Ketika merasa tertinggal, kita mudah menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa diri sendiri tidak cukup pintar atau berbakat.
Padahal, satu kegagalan tidak selalu menggambarkan kemampuan seseorang secara keseluruhan.
Psikolog Carol S. Dweck dari Stanford University dikenal melalui penelitiannya mengenai growth mindset, yaitu pandangan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui pembelajaran, strategi, dan latihan.
Pola pikir ini mendorong seseorang melihat kesalahan sebagai bahan evaluasi, bukan semata-mata sebagai penilaian terhadap harga dirinya.
Namun, growth mindset bukan sekadar mengulang kalimat positif seperti “saya pasti bisa”. Perkembangan tetap membutuhkan strategi yang sesuai, umpan balik, sumber daya, dan evaluasi realistis.
Jika gagal mendapatkan promosi, misalnya, cari tahu kompetensi apa yang perlu ditingkatkan. Jika usaha belum menghasilkan keuntungan, evaluasi biaya operasional, pemasaran, dan kebutuhan pelanggan.
Usaha keras memang penting, tetapi tidak menjamin semua orang memperoleh hasil yang sama. Kesempatan, kondisi lingkungan, dan dukungan juga berpengaruh.
Karena itu, ubah pertanyaan “Mengapa saya selalu gagal?” menjadi “Apa yang bisa saya pelajari dan perbaiki dari pengalaman ini?”
Pertanyaan tersebut membantu mengarahkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa diupayakan.
Pencapaian yang terlihat besar sering lebih mudah mendapatkan perhatian. Sebaliknya, kemajuan kecil dalam kehidupan sehari-hari kerap dianggap tidak berarti.
Padahal, memperbaiki pengelolaan keuangan, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, atau mempelajari keterampilan baru juga merupakan bentuk perkembangan.
Cobalah meluangkan beberapa menit setiap akhir pekan untuk mengevaluasi kemajuan diri.
Tuliskan tiga hal yang berhasil dilakukan selama seminggu. Setelah itu, tentukan satu hal yang ingin diperbaiki pada minggu berikutnya.
Misalnya, selama seminggu berhasil mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, dan mulai belajar keterampilan baru.
Kebiasaan ini membantu kita melihat perkembangan berdasarkan pengalaman nyata, bukan hanya berdasarkan perbandingan dengan pencapaian orang lain.
Tidak semua minggu akan menghasilkan kemajuan yang terlihat. Ada kalanya pekerjaan menumpuk, rencana tertunda, atau kondisi keluarga membutuhkan perhatian lebih besar.
Gunakan evaluasi tersebut untuk memahami apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu disesuaikan, bukan untuk menciptakan tuntutan agar selalu produktif.
Media sosial membuat kita lebih mudah mengetahui pencapaian teman. Dalam beberapa menit, kita bisa melihat kabar promosi jabatan, perjalanan ke luar negeri, pembelian rumah, hingga perkembangan bisnis seseorang.
Namun, unggahan tersebut tidak selalu menggambarkan kehidupan secara utuh.
Kita mungkin melihat keberhasilan seseorang tanpa mengetahui utang yang harus dibayar, waktu yang dikorbankan, atau kesulitan yang sedang dihadapi.
Akibatnya, kita berisiko membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh persoalan dengan potongan pengalaman orang lain yang terlihat menyenangkan.
Jika kebiasaan tersebut membuat kita merasa rendah diri, evaluasi cara menggunakan media sosial.
Beberapa langkah yang bisa dicoba antara lain:
Langkah tersebut tidak mengharuskan kita meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang perlu diubah adalah cara menggunakannya agar lebih mendukung kehidupan, bukan menjadi alat untuk terus-menerus mengukur harga diri.
Ketika merasa tertinggal, kita terkadang berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang terlalu keras.
Kita menyebut diri tidak berguna, tidak kompeten, atau gagal hanya karena belum mencapai target tertentu.
Psikolog Kristin Neff dari University of Texas at Austin meneliti konsep self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan ketika menghadapi kesulitan.
Dalam tinjauan ilmiah yang diterbitkan di Annual Review of Psychology pada 2023, Neff menjelaskan tiga unsur utama self-compassion: kebaikan terhadap diri sendiri, kesadaran bahwa kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia, dan perhatian penuh terhadap pengalaman yang sedang dirasakan tanpa menghakimi diri secara berlebihan.
Penelitian mengenai konsep ini menunjukkan kaitannya dengan kesejahteraan psikologis dan cara menghadapi emosi yang sulit.
Penerapannya bukan berarti membenarkan semua kesalahan atau berhenti memperbaiki diri. Sebaliknya, kita belajar mengakui kekurangan tanpa menjadikannya sebagai identitas diri.
Ketika gagal mencapai target, misalnya, kita bisa mengatakan:
“Saya memang belum mencapai tujuan itu. Saya perlu mengevaluasi apa yang salah dan menentukan langkah berikutnya.”
Kalimat tersebut mengakui kenyataan sekaligus membuka ruang untuk perbaikan.
Sikap ini lebih realistis daripada terus menyalahkan diri sendiri atau berpura-pura bahwa kegagalan tidak penting.
Tidak semua pencapaian yang dianggap penting oleh masyarakat harus menjadi tujuan pribadi.
Ada orang yang mengutamakan penghasilan tinggi. Ada yang lebih menghargai waktu bersama keluarga. Ada pula yang ingin membangun usaha, memiliki pekerjaan yang lebih fleksibel, atau menjalani kehidupan dengan tekanan finansial yang lebih rendah.
Sebelum mengejar sesuatu yang dimiliki teman, tanyakan apakah pencapaian tersebut memang sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang kita pegang.
Jangan sampai seseorang memaksakan diri membeli barang mahal demi menjaga gengsi, padahal kondisi keuangannya belum memungkinkan.
Agar tujuan lebih terarah, gunakan tiga pertanyaan berikut.
Apa yang benar-benar saya inginkan?
Bedakan keinginan pribadi dari keinginan untuk terlihat berhasil di mata orang lain.
Apa yang bisa saya kendalikan?
Fokus pada keputusan, keterampilan, kebiasaan, dan usaha yang masih bisa dilakukan. Tidak semua keadaan berada dalam kendali kita.
Apa langkah terkecil yang bisa dimulai sekarang?
Ubah tujuan besar menjadi tindakan yang jelas dan terukur.
Jika ingin memperbaiki kondisi keuangan, misalnya, mulailah dengan mencatat pengeluaran dan menyusun anggaran. Jika ingin berpindah karier, cari tahu keterampilan yang dibutuhkan dan peluang belajar yang tersedia.
Target tidak harus langsung besar. Yang penting, tujuan tersebut realistis, sesuai dengan kebutuhan, dan dapat dievaluasi.
Merasa tertinggal sesekali merupakan pengalaman yang dapat dialami banyak orang. Namun, jika perasaan tersebut berlangsung lama dan mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, jangan menganggapnya sekadar masalah pola pikir.
Perasaan rendah diri yang berat, kecemasan berkepanjangan, atau hilangnya harapan juga perlu mendapat perhatian.
Dalam kondisi seperti itu, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental yang kompeten. Bantuan profesional dapat membantu memahami sumber tekanan dan menentukan langkah yang sesuai.
Mengubah pola pikir dapat menjadi bagian dari proses menghadapi masalah, tetapi bukan berarti semua persoalan bisa diselesaikan hanya dengan berpikir berbeda.
Merasa tertinggal dari teman sebaya tidak otomatis berarti kita gagal menjalani kehidupan. Perasaan tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenali hal-hal yang sebenarnya ingin dicapai dan mengevaluasi arah yang sedang ditempuh.
Penelitian tentang perbandingan sosial, growth mindset, dan self-compassion memberikan perspektif untuk memahami pengalaman tersebut. Namun, tidak ada satu pendekatan yang menjamin hasil sama bagi setiap orang.
Untuk memulai, lakukan tiga langkah sederhana dalam tujuh hari ke depan.
Pertama, kenali satu kebiasaan membandingkan diri yang paling sering membuat kita merasa rendah diri.
Kedua, ubah perbandingan tersebut menjadi bahan belajar. Jika teman berhasil dalam karier, misalnya, pikirkan keterampilan apa yang bisa dikembangkan untuk membuka peluang sendiri.
Ketiga, tentukan satu tindakan kecil yang mendukung tujuan pribadi, lalu evaluasi hasilnya pada akhir minggu.
Kita tidak harus mencapai semua target dalam waktu yang sama dengan orang lain. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan sendiri, mengenali keterbatasan, dan mengambil langkah yang realistis untuk berkembang.
Tulis Komentar