08117992581

Kopi Tak Bikin Melek, tapi Bisa Mengganggu Kualitas Tidur

$rows[judul] Keterangan Gambar : Ilustrasi. foto pixabay

Kota Metro, A1BOS.COM - Minum kopi tidak selalu membuat seseorang sulit tidur. Anda bahkan bisa tertidur seperti biasa dan tetap menghabiskan delapan jam di tempat tidur.

Namun, lama tidur bukan satu-satunya ukuran kualitas istirahat. Kafein tetap dapat memengaruhi aktivitas otak saat tidur, termasuk mengurangi gelombang lambat yang berkaitan dengan tidur dalam dan pemulihan tubuh.

Dikutip dan diadaptasi dari penjelasan Prof. Donata Kurpas dari Department of Nursing, Wroclaw Medical University, perubahan seperti ini tidak selalu disadari karena seseorang belum tentu terbangun atau merasa tidurnya terganggu.

EEG Melihat Apa yang Terjadi pada Otak Saat Tidur

Salah satu alat yang digunakan untuk melihat aktivitas otak saat tidur adalah electroencephalography atau EEG.

Pemeriksaan ini merekam aktivitas listrik otak. Dari sana, peneliti bisa melihat bukan hanya apakah seseorang sedang tidur, tetapi juga bagaimana otaknya bekerja selama tidur.

Menurut Kurpas, penilaian tidur secara umum biasanya berfokus pada durasi dan tahapan tidur. Analisis EEG yang lebih rinci bisa menunjukkan perubahan yang tidak selalu terasa oleh orang yang tidur, termasuk berkurangnya aktivitas gelombang lambat.

Gelombang lambat merupakan salah satu ciri tidur dalam. Tahap tidur ini berkaitan dengan pemulihan fisik, pengisian kembali energi, serta fungsi otak yang tetap sehat.

Tidur Tetap Normal, tapi Bisa Kurang Memulihkan

Kafein tidak selalu membuat seseorang sulit tidur. Efeknya juga tidak selalu terlihat dari berapa lama seseorang tertidur.

“Caffeine may shorten sleep or make it more difficult to fall asleep; however, even when sleep duration appears normal, it may reduce slow-wave activity and shift the EEG pattern toward a more ‘wakeful’ brain,” kata Kurpas.

Dengan kata lain, seseorang bisa saja tidur selama delapan jam, tetapi otaknya tidak mendapatkan pola tidur dalam yang sama seperti biasanya.

Yang membuatnya sulit disadari, gangguan ini tidak selalu menyebabkan seseorang terbangun pada malam hari.

Kurpas mengatakan perasaan sudah tidur nyenyak juga tidak selalu sesuai dengan apa yang terlihat dalam rekaman aktivitas otak. Seseorang bisa tertidur dengan mudah dan tidak mengingat adanya gangguan, sementara otaknya menunjukkan lebih sedikit ciri tidur dalam.

Setiap Orang Bisa Bereaksi Berbeda terhadap Kafein

Efek kopi pada tidur juga tidak sama untuk semua orang.

Genetik, metabolisme, usia, stres, dan kelelahan dapat memengaruhi respons tubuh terhadap kafein. Karena itu, bagi sebagian orang, kopi yang diminum sejak pagi masih bisa berpengaruh ketika malam tiba.

Menurut Kurpas, yang perlu diperhatikan bukan hanya kopi yang diminum menjelang tidur.

Jumlah kafein yang dikonsumsi sepanjang hari dan seberapa cepat tubuh memprosesnya juga berperan. Jika tubuh belum selesai memetabolisme kafein ketika malam datang, efeknya terhadap tidur masih mungkin terasa.

Hal ini bisa menjadi perhatian bagi mereka yang menggunakan kafein untuk menjaga fokus, stamina, atau performa. Misalnya, atlet, orang yang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, maupun mereka yang terbiasa mengonsumsi kopi atau produk berkafein agar tetap terjaga.

Kafein Bisa Membuat Siklus Lelah Berulang

Kafein memang bisa membuat rasa lelah berkurang untuk sementara. Tubuh terasa lebih siap beraktivitas dan pikiran menjadi lebih waspada.

Masalahnya bisa muncul ketika efek tersebut diikuti tidur yang kurang memulihkan.

Jika kualitas pemulihan malam hari menurun, rasa lelah dapat muncul lagi keesokan harinya. Kafein kemudian kembali digunakan untuk mengatasinya.

Kurpas menyebut kondisi ini bisa membentuk lingkaran: semakin lelah, semakin membutuhkan stimulan, sementara kualitas tidur semakin buruk.

Jadi, kafein seperti meminjam energi untuk sementara. Jika pemulihan pada malam hari ikut terganggu, rasa lelah bisa kembali muncul setelah efek kafein hilang.

Temuan tersebut membuat peneliti tidur tidak hanya memperhatikan durasi tidur. Yang juga penting adalah apa yang terjadi pada otak selama tidur dan apakah tidur tersebut benar-benar membantu tubuh melakukan pemulihan.

Kurpas menekankan bahwa kafein tidak bisa begitu saja disebut baik atau buruk. Efeknya bergantung pada dosis, waktu konsumsi, usia, gaya hidup, kualitas tidur, tingkat stres, serta sensitivitas setiap orang terhadap kafein.

Bagi peminum kopi, pesannya cukup sederhana: jangan hanya melihat jam tidur. Perhatikan juga bagaimana tubuh terasa setelah bangun dan bagaimana pola konsumsi kafein sepanjang hari.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)