Keterangan Gambar : Cincin pintar deteksi gula darah. foto/android
METRO, A1BOS.COM - Teknologi perangkat wearable terus berkembang. Kini fungsinya tidak lagi sebatas menghitung langkah kaki atau memantau detak jantung, tetapi juga mulai mampu membantu memantau kondisi kesehatan secara lebih mendalam.
Salah satu terobosan terbaru datang dari pengembangan cincin pintar yang dapat mengukur kadar glukosa darah tanpa perlu mengambil sampel darah. Jika berhasil dikembangkan menjadi produk komersial, teknologi ini berpotensi memberikan cara yang lebih nyaman bagi pengguna untuk memantau kondisi tubuh setiap hari.
Dikutip dan diadaptasi dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, para ilmuwan mengembangkan cincin pintar yang mampu menganalisis keringat untuk mengukur kadar glukosa, laktat, hingga alkohol secara non-invasif.
Selama ini, pemeriksaan kadar glukosa umumnya dilakukan dengan mengambil sampel darah menggunakan jarum. Cara tersebut dinilai kurang praktis apabila harus dilakukan berulang kali.
Melalui penelitian ini, para ilmuwan menawarkan pendekatan berbeda. Mereka merancang cincin pintar yang memanfaatkan analisis keringat sebagai sumber informasi biologis sehingga pengguna tidak perlu lagi menjalani pengambilan darah untuk memperoleh data tersebut.
Selain glukosa, perangkat ini juga mampu mendeteksi kadar laktat dan alkohol dari sampel keringat yang dikumpulkan.
Salah satu tantangan utama sensor berbasis keringat adalah kebutuhan akan jumlah keringat yang cukup agar pembacaan dapat dilakukan secara akurat.
Untuk mengatasi masalah tersebut, cincin pintar ini menggunakan polimer hidrogel osmotik yang dirancang untuk menyerap keringat langsung dari permukaan kulit. Teknologi ini memungkinkan sensor tetap memperoleh sampel meski pengguna tidak sedang berkeringat deras.
Dengan demikian, perangkat tetap dapat melakukan pengukuran dalam kondisi penggunaan sehari-hari.
Dalam penelitian tersebut, data yang diperoleh dari analisis keringat dilaporkan memiliki tingkat kesesuaian dengan hasil pengukuran menggunakan sampel darah.
Temuan ini menjadi nilai penting karena sejumlah pendekatan non-invasif lain, termasuk yang menggunakan sensor optik, masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan akurasi yang sebanding dengan pemeriksaan darah.
Apabila teknologi ini terus disempurnakan, metode analisis keringat berpotensi menjadi alternatif baru untuk pemantauan kesehatan.
Meski menjanjikan, cincin pintar ini belum siap dipasarkan sebagai produk konsumen.
Perangkat yang dikembangkan peneliti masih berukuran relatif besar dan hanya mampu beroperasi sekitar 12 jam dalam sekali pengisian daya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini masih memerlukan penyempurnaan sebelum dapat bersaing dengan cincin pintar komersial yang telah beredar di pasaran.
Namun, penelitian ini memberikan gambaran mengenai arah perkembangan perangkat wearable pada masa mendatang, terutama dalam menghadirkan pemantauan kesehatan yang lebih praktis tanpa prosedur invasif.
Kemampuan mengukur kadar glukosa tanpa jarum selama ini menjadi salah satu target utama dalam pengembangan perangkat wearable.
Apabila ada produsen yang berhasil menghadirkan teknologi semacam ini dalam bentuk produk yang nyaman digunakan dengan akurasi tinggi, inovasi tersebut berpotensi menjadi salah satu lompatan besar di industri wearable.
Bagi pengguna, manfaatnya bukan hanya kemudahan memantau kondisi tubuh, tetapi juga pengalaman penggunaan yang lebih praktis dibandingkan metode pemeriksaan konvensional.(nat/bs)
Tulis Komentar